TAFSIR SURAT AL BALAD AYAT 4

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

Al-Balad 90:4

Indonesian – Tafsir Jalalayn

(Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) semuanya (berada dalam susah payah) yaitu lelah dan susah karena selalu menghadapi musibah-musibah di dunia dan kesengsaraan-kesengsaraan di akhirat.

Indonesian – Bahasa

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

***

TAFSIR albalad

Surat Al Balad didahului oleh 2 sumpah, yaitu di ayat pertama

لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ

Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)

Serta di ayat ketiga

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

dan demi (pertalian) bapak dan anaknya.

Allah sampai bersumpah 2 kali untuk menyampaikan bahwa

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Manusia diciptakan dalam kondisi كبد (kabad). Istilah yang digunakan adalah الإنسان, artinya manusia. (Fyi, dalam Al Qur’an ada beberapa istilah untuk menyebut manusia, dan tiap istilah itu punya makna karakteristik masing-masing. Kalau versi terjemahan Indonesia, karena keterbatasan bahasa kita juga, semuanya diartikan “manusia”, meskipun katanya beda-beda.)

Term الإنسان berarti mencakup seluruh manusia, baik yang beriman maupun kafir, dsb. Semuanya sama diciptakan dalam kondisi كبد

Ada ahli tafsir yang menafsirkan كبد dengan tegak lurus, ada pula yang menafsirkan sebagai kondisi yang susah, penuh perjuangan yang menguras tenaga. Manusia adalah mahluk yang dari lahir sampai meninggal kondisinya كبد terus. Susah payah. Baru selesai kesusahannya setelah meninggal.

Karenanya orang yang meninggal disebut Rasulullah Saw مسترِيح. Beristirahat. Maksudnya sudah selesai perjuangan, tinggal istirahat dan menikmati alam kubur.

Tapi sesungguhnya tidak semuanya istirahat. Hanya Allah yang tahu apakah seseorang itu termasuk مسترِيح (mustarihun) yang istirahat di alam kubur. Atau termasuk مستراح منه (mustarahun minhu), jadi bukan dianya yang istirahat, tapi mahluk lain, bumi, langit, beristirahat dari kejahatan yang ditimbulkannya selama dia hidup.

Dalam hidup كبد ini niscaya. Allah uji manusia dengan penyakit, kemiskinan, kebencian orang, dll semuanya كبد. Tapi meskipun kesulitan pasti ada, kita dianjurkan berdoa minta pertolongan Allah agar sabar. Dan agar كبد ini cukup di dunia saja, tidak berlanjut ke alam kubur dan akhirat.

Bahkan yang kaya, sehat, sejahtera, juga punya كبد. Dalam hal meraihnya, menjaganya, memeliharanya semuanya lewat كبد

Kalau kita selama di dunia, menjalankan كبد tidak sesuai dengan tuntutan Allah, maka sesungguhnya kita sedang menyongsong كبد yang lebih besar lagi di akhirat. Alangkah sedihnya kalau di dunia sudah ketemu kesusahan, eh di alam kubur ketemu lagi.

Jadi bagaimana menghadapi كبد ini?
1. Dengan doa yang diajarkan Rasulullah Saw
2. Jadikan كبد ini dalam rangka ketaatan pada Allah. Contohnya كبد (bersusah payah) untuk shalat. Nanti ketika sudah terbiasa, shalat tidak menjadi كبد lagi melainkan kenikmatan. Shalat dipandang sebagai كبد adalah bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Jika sudah terbiasa shalat, lalu kita كبد lagi dalam ibadah yang lain, sampai bertemu kenikmatannya. Begitu terus.

Sesungguhnya setelah كبد Allah siapkan kebahagiaan. Contohnya orang kerja, كبد nya berangkat pagi, pulang sore, capek, sebulan penuh. Tapi كبد nya terbayar dengan gajian, bahagia. Itu baru di dunia.

Apalagi di akhirat. كبد manusia dalam ketaatan juga dibayar dengan kebahagiaan di akhirat.

Di Qur’an surah Fathir 34-35 disebutkan,

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri,

ٱلَّذِىٓ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”

Kata Ustadz Abdul Aziz, hamdalahnya penghuni surga tuh ini, bersyukur pada Allah karena tidak lagi merasakan kelelahan.

Kenapa khusus banget disebut “tidak merasa lelah dan tidak merasa lesu’? Ini menegaskan bahwa betapa dulu penghuni surga ini di dunia sudah pada melelah-lelahkan diri dalam ketaatan. Maka dibalas oleh Allah, udah di surga gak usah berlelah-lelah lagi, bersenang-senang saja (Masya Allah, speechless aku tuh dengar penjelasan ini).

Bahkan di ayat berikutnya diceritakan, bagaimana kondisi كبد nya penghuni neraka. Mereka teriak-teriak minta dikeluarkan dan janji akan mengerjakan amal salih. Mereka baru mau كبد dalam ketaatan setelah semuanya terlambat. (Cek Fathir:37)

Orang-orang yang sudah كبد dalam ketaatan di dunia, bersabar berkumpul dengan orang soleh dalam memperjuangkan Islam, disebutkan Allah dalam Surat Al Fajr ayat-ayat terakhir, wahai jiwa-jiwa yang tenang dst.

Di ayat 29,

فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى

Ada kata فى

Sedangkan di ayat 30

وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

Tidak ada فى nya.

Ternyata.. karena perbedaan فى ini aja ada maknanya. فى ini menunjukkan butuh kesabaran, adanya كبد. Meskipun oleh Allah disebutkan mereka adalah عِبَٰدِى orang-orang salih, tapi tetap saja yang namanya hidup dengan orang salih itu butuh sabar, butuh berusaha menghindar dari kedengkian dalam hati (sebagaimana dalam doa di Surat Al Hasyr ayat 10 وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟), dll. Makanya bersama عِبَٰدِى ini termasuk كبد juga.

Tapi ketika masuk surganya langsung, وَٱدْخُلِى جَنَّتِى Tidak ada فى nya lagi. Allah mengisyaratkan bahwa cukuplah كبد pas bersama orang salih aja. Di surga gak perlu lagi. Bahkan sejak proses masuk surganya aja sudah tidak ada lagi كبد. Memang ada golongan mukminin tertentu yang masuk surganya pakai jalur cepat begini.

[Masya Allah. Masya Allah. Qur’an ini, betul-betul yah. Dari kata فى saja ternyata maknanya bisa mendalam gini.]

Jadi.. kalau hidup terasa begitu nelangsa, sabar aja. Karena memang beginilah kondisinya manusia فى كبد dalam kondisi susah payah. Kesusahan adalah keniscayaan. Bersabar dan bersyukur saja. Nanti Allah kasih kegembiraan setelahnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Doa untuk menghadapi كبد ini sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw. Doa yang udah sama-sama kita hapal dari jaman masih TPA, jangan lupa dibaca.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menikmati hasil كبد kita baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahua’lam.

***

Tafsir yang dituliskan di sini adalah isi Kajian Fikrah Qur’an Tafsir Quran Surah Al Balad Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf. Dengan tambahan seperlunya.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.