SUDAH SAATNYA LEBIH WASPADA CORONA

Status COVID-19 sekarang sudah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Kalau statusnya sudah jadi pandemi, kita tidak bisa lagi memandang ini hal yang remeh.

Di tulisan sebelumnya saya bilang, fakta bahwa kebanyakan penderita Corona gejalanya ringan saja dikatakan sebagai kabar buruk sekaligus kabar baik. Kabar baiknya sebagian besar kasus menimbulkan gejala yang ringan dan bahkan tidak bergejala. Tapi kali ini saya mau bahas kabar buruknya.

Kabar buruknya adalah banyak orang yang sudah positif COVID-19 tidak terdeteksi, menjadi “carrier” dan bisa menularkannya ke orang lain. Jumlah orang yang positif COVID-19 tapi tidak terdeteksi jauh lebih banyak dari yang terdeteksi. Jadi kalau sekarang (saat saya menulis ini) di Indonesia positif 69 orang, sejatinya yang membawa-bawa virus ini kemana-mana jauh lebih banyak dari itu.

Virus ini memang memiliki angka kematian yang rendah tapi penularannya tinggi sekali. Yang dikhawatirkan adalah ketika virus ini bertemu dengan kelompok rentan yaitu orang dengan imunitas tubuh kurang baik, punya penyakit lain, atau usia lanjut. Kalau kena ke anak-anak dewasa muda yang sehat bugar mungkin ga bahaya, tapi lain cerita kalau si anak tadi menularkan ke kakeknya.

Kenapa di Italia jumlah pasien meninggalnya tertinggi di luar Cina? Karena di sana populasi lansianya tinggi, kedua setelah Jepang. Kebanyakan yang meninggal adalah lansia dengan penyakit penyerta.

Lalu kita harus bagaimana?

Pertama, berdoa. Karena virus itu mahluk Allah. Yang Maha berkehendak juga Allah. Selain itu, jalankan PHBS alias pola hidup bersih dan sehat. Cuci tangan minimal 20 detik dengan air dan sabun. Kalau lagi di perjalanan, ga ketemu air dan sabun, boleh pakai hand sanitizer dulu.

Hindari menyentuh hidung, mulut, dan mata. Juga hindari menyentuh hidung, mulut, dan mata orang lain. Hehe. Maksudnya hindari kontak dengan tangan dan wajah. Jadi hindari dulu bersalaman dan cium pipi.

Anak-anak ga usah dulu disuruh salim cium tangan, apalagi yang ciumnya pakai mulut. Saya udah lama khawatir dengan cium tangan seperti ini, makanya kalau cium tangan (sebelum pandemi COVID-19) saya arahkan ke dahi atau bahkan ga sampai saya sentuhkan ke wajah.

Jika mau shalat berjamaah di masjid, bawa sajadah sendiri. Kalau punya wewenang, gulung dulu karpet masjid, simpan. Bersalaman dengan jama’ah lain pun tidak disarankan. Demi mencegah mudharat di masa ini.

Isolasi diri kalau sedang sakit. Bisa jadi kita ternyata membawa virus atau bisa juga kita jadi rentan tertular dari si pembawa virus.

Tidak usah dulu kumpul-kumpul dan berkerumun. Jalan-jalan ditunda. Makan di rumah aja. Ke mall stop dulu. Lagipula di Jakarta beberapa tempat wisata sudah ditutup sementara. Uangnya ditabung dulu mendingan, jaga-jaga krisis ekonomi.

Belajar dari kasus di Italia. Kenapa di sana bisa tinggi sekali jumlah kasusnya? Sampai belasan ribu orang terkena. Salah satunya karena kebiasaan orang sana yang suka kongkow-kongkow jiwa sosialita, budaya peluk cium, dan melanggar imbauan untuk isolasi diri.

Anak-anak muda di sana banyak yang protes dengan imbauan untuk stay di rumah. Mereka ga terlalu perduli dengan angka kematian 5% dan menganggap pemerintah terlalu lebay. Waktu awal sekolah-sekolah di Italia Utara diliburkan, banyak orang tua yang malah mengajak anaknya berlibur. Akibatnya, lebih dari 12000 kasus teridentifikasi.

Penting bagi kita untuk tidak egois. Tunda dulu keinginan menghabiskan uang dengan liburan. Atau kumpul-kumpul tanpa juntrungan. Dan kalau nanti pemerintah menetapkan meliburkan sekolah (saya berharap ini segera diberlakukan), ajak anak belajar di rumah bukannya keluyuran.

Jangan sombong dan merasa sok sehat dengan imunitas baik. Tetap perlu mawas diri jangan jadi “carrier”. Karena di sekitar kita ada kelompok rentan yang perlu dijaga.

Kita memang perlu lebih waspada. Buat Anda yang masih pengen (sok) “santuy”, harap tidak mengejek kewaspadaan dan tindakan pencegahan orang lain. Termasuk langkah-langkah kewaspadaan seorang kepala daerah untuk melindungi warganya.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.