Menimbang Kembali Kehalalan Dompet Digital

Bismillahirrahmanirrahim

Perhatian sebelumnya, tulisan ini akan membahas sikap saya pribadi. Bukan memberi fatwa karena saya bukan alim. Kl ada baiknya mau diambil silakan, kl tidak ya gak masalah.

Lah kl sikap pribadi kenapa dipublikasikan, kenapa ga disimpan sendiri aja? Karena beberapa waktu lalu saya pernah menulis catatan hasil kajian Fiqh Muamalah Maliyah dengan Ustadz Oni dan ada yang tanya soal ini kemudian saya jawab. Sekarang saya punya pendapat berbeda maka saya merasa bertanggung jawab untuk menuliskan kembali pendapat terbaru tsb. Semoga bisa meluruskan kekeliruan saya terdahulu.

Pertama, kita samakan dulu pemahaman bahwa bunga bank konvensional adalah riba. Gak cuma bunga, tapi semua manfaat lebih yang didapat dari bank konvensional karena kita punya rekening di situ adalah riba. Kl di dasar ini pemahamannya udah beda mending berhenti membaca sampai sini karena ga bakal ketemu ujungnya.

Dulu saya memahami bahwa diskon yang diberikan gopay adalah boleh. Karena gopay adalah deposit yang saya bayarkan ke gojek untuk membayar semua jasa yang diberikan gojek (nanti) pada saya. Transaksinya dikenal dengan jual beli jasa dengan fee tunai dan jasa tidak tunai atau ijarah maushufah fi dzimmah.

Semua diskonnya diperbolehkan karena dalam jual beli jasa, bukan transaksi utang piutang. Saya ingat betul saat itu Ustadz Oni mensyaratkan “customer tidak boleh menggunakan dalam bentuk pencairan atau transfer karena itu milik perusahaan jasa transportasi online.”

Sederhananya begini, kita beli jasa gojek, kita bayar di muka, pakai gopay. Saldo gopay itu berarti sudah milik gojek. Bukan milik kita lagi. Jadi jelas ini jual beli jasa jadi kl kita dapat promo apapun halal.

Tapi beberapa tahun kemudian gopay berubah. Saldo gopay bisa ditarik, ditransfer, atau buat belanja di merchant lain di luar aplikasi gojek. Dari sini saya mulai mikir, loh berarti saldo gopay ini masih milik saya, bukan milik gojek karena masih bisa saya gunakan. Kl begitu, akad apakah ini uang saldo yang saya simpan di gopay? Apakah akad utang piutang atau titipan? Kl akad jual beli jelas bukan.

Gopay sekarang menjadi e-wallet atau dompet digital. Ia tak ubahnya rekening bank, bedanya bentuknya digital. Sama dengan ovo, Dana, linkaja, shopeepay. Berarti kl seperti rekening bank, perlu ditelaah lagi akadnya. Ini titipan (wadiah) atau utang piutang (qardh).

Makanya dalam menentukan ini hukumnya bagaimana, pakai rambu-rambu fiqih e-wallet.

Ini penjelasan dari Ustadz Oni

***
Sesungguhnya e-wallet adalah alat netral yang ketentuan hukumnya bergantung pada substansi dan peruntukannya. Penggunaannya harus dibingkai rambu-rambu syariah agar maslahat dan terhindar dari efek merugikan, sebagaimana Fatwa No.116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan Standar AAOIFI No.38 tentang at-Ta’amulat al- Elektroniah, di antaranya berikut ini.

Pertama, bank syariah sebagai bank penampung, yaitu jumlah nominal e-wallet yang ada pada penerbit ditempatkan di bank syariah. Kedua, peruntukan yang halal. Ewallet digunakan sebagai alat bayar untuk membeli barang/jasa yang halal. Oleh karena itu, penerbit tidak bekerja sama dengan merchant yang menjual barang/jasa yang tidak halal.

Ketiga, cashback atau diskon (jika ada) itu tidak diperjanjikan oleh penerbit kepada konsumen saat transaksi yang dilakukan adalah pinjaman (qardh) atau titipan (wadiah) yang digunakan oleh penerbit (Dharir, Jawa’iz, Hauliyah Barakah, V, Oktober 2003). Karena, disimpulkan bahwa setiap dana pengguna di rekening ewallet- nya itu sebagai piutangnya kepada penerbit, baik akad yang digunakan adalah pinjaman atau titipan, karena titipan tersebut digunakan.
***

Sampai di sini makin ragu kan dengan status kehalalan promo yang diberikan e-wallet? Karena rambu pertama saja sudah meragukan. Untuk ovo sudah jelas, ini produk digitalnya Nobu Bank, bukan bank syariah. Berarti tidak memenuhi rambu pertama. Gopay, shopeepay, dll memangnya disimpan di lembaga keuangan syariah?

Lalu soal akad. Kl wadiah atau titipan, penerbit e-wallet tidak boleh menggunakannya kecuali atas izin pemilik. Kl akadnya utang boleh dipakai. Tapi manfaat lebih yang didapatkan pengguna jadi nyerempet banget riba.

Oleh karena itu, saya pribadi sudah tidak lagi mengambil manfaat lebih dari saldo dompet digital saya. Manfaat lebih ini misalnya diskon, cashback, atau promo lainnya.

Misalnya gini, kl bayar pakai shopeepay jadi dapat free ongkir. Yang kaya gini sudah saya tinggalkan. Saya bayar aja ongkirnya, mudah-mudahan Allah kasih kemudahan buat bayar belanjaan + ongkir.

Tapi dompet digital masih saya pakai untuk kemudahan pembelian jasa yang memang tidak ada alternatifnya. Misal bayar gopay untuk gosend sameday atau bayar anteraja pakai OVO. Sekali lagi, saya cuma tidak mengambil manfaat lebihnya.

Apakah semua promo dari dompet digital tidak diperkenankan? Kl saya pribadi iya. Tapi kl promonya dari pihak merchant BUKAN dari penerbit e-wallet maka itu diperbolehkan. Misal ada toko kue ngasih promo diskon, lalu dibayar pakai e-wallet, maka ga masalah. Tapi kl promonya dari penerbit e-wallet, misalnya beli kopi pakai shopeepay bayar 1 rupiah. Sebenernya harga tokonya normal, pihak shopeepay bayar full ke toko, tapi kita cuma bayar Rp 1 saldo shopeepay, inilah manfaat lebih yang harus dihindari.

Lalu bagaimana membedakan ini promo dari merchant atau dari penerbit e-wallet? Saya juga kadang bingung. Nah daripada ragu mending saya tinggalkan. Bukan apa-apa, di luar urusan muamalah maliyah aja saya udah banyak dosa, mending cari aman gak nambahin lagi.

Mudah-mudahan Allah mampukan punya dompet sultan. Jadi tidak perlu lagi cari-cari subsidi ongkir dan diskonan.

Wallahu a’lam

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.