Sukses, Ilusi Gunung Es


Ada sebuah gambar menarik yang mengilustrasikan tentang sukses. Gambar ini kemudian ada yang memodifikasi jadi tentang riba. Judulnya “success is an iceberg”. Ya, sukses digambarkan seperti ilusi gunung es, yang terlihat cuma puncaknya, bagian dasar gunungnya yang berada di dalam air ga terlihat, padahal lebih besar. 

Seperti gunung es, people only see the surface, but don’t know what beneath it. Orang melihat kesuksesan orang hanya pada hasilnya, kebahagiaan nya, kenikmatan hidupnya. Tapi mereka ga lihat, untuk bisa dapat itu, orang sukses sudah melalui kerja keras, disiplin, pengorbanan, kecewa, dll. Akibatnya, cemburu, iri, atau parahnya, hasad. 

Contoh gampang, leader MLM. Yang downline lihat, itu leader dapat komisi ratusan juta perbulan, jalan-jalan gratis ke luar negeri, keluar masuk hotel, baju bagus, rumah mentereng. Jadilah para downline yang baru mulai ini mulai bermimpi bisa begitu, tapi usahanya baru sedikit udah nyerah. Kenapa? karena mereka ga lihat, di bawah permukaan air, ada kerja super keras. Mereka ga lihat, untuk sampai level diamond, si leader udah melewati ribuan penolakan, jutaan promosi, bahkan boleh jadi ga sempat ketemu anak saking sibuk ikutan training. Akibatnya cuma pengen mirip penghasilannya, tanpa menduplikasi kerjanya. 

Saya rasa, ini juga yang bikin konflik angkot dan angkutan online. Gemes banget kl dengar demo angkot yang ujungnya kekerasan ke armada angkutan online. Lah sama sama cari makan ko. Mungkin mereka pikir, angkutan online itu enak, hidup mudah, penghasilan banyak. They only see the surface. 

Saya kl lagi naik taksi online sering ngobrol sama drivernya. Sebenarnya penghasilan mereka itu kecil lho karena tarif yang murah. Belum lagi kl ternyata penumpang dapat promo diskon, potongan bahkan gratis. Iya, mereka dapat penghasilan yang tetap full, ga dipotong promo, tapi kl kaya supir uber, itu duit gabisa dicairkan hari itu juga. Jadi, udah jauh-jauh mengantar penumpang, tahunya ga dibayar, cair baru akhir pekan. Padahal beli bensinnya gabisa utang. 

Pernah juga saya dengar supir gocar, mobilnya dari rental. Sehari rental (kl ga salah ingat) 300.000. Dia bolak-balik 6x cijantung-fatmawati baru nutup buat bayar rental mobilnya, belum ada buat makan anak istri. Kadang-kadang ada juga dalam sehari itu jatohnya dia nombok, penghasilan ga cukup buat rental dan mobil. Mungkin sopir angkot mengira hidup supir uber enak, padahal bisa jadi bedanya cuma di keberadaan AC dalam mobil mereka. Soal kerja keras mah sama. 

Belum lagi kisah ojek online. Sudah banyak lah cerita kepedihan mereka, antre makanan lama ujungnya diomelin pelanggan, nyari alamat muter-muter ujungnya cancel, biaya telepon yang lebih mahal dari tarif ojeknya. Trus sopir angkot masih mau geram dengan keberadaan mereka sampai begitu besar permusuhan nya? Sama-sama mengais rezeki om. 

We don’t know what beneath it. Jujur saya juga suka iri lihat penjualannya agen top afrakids. Ini orang jualan kaos ko bisa kaya jualan narkoba gitu ya, nagih, laris, kaya, tapi ga diuber BNN, haha. Begitu lihat fanspage nya, ajegile, update konten sehari bisa 3x rutin. Sedangkan saya kl lagi rutin sehari sekali aja udah merasa paling rajin se-kotamadya. Belum lagi maintenance reseller nya, mungkin dahsyat, sayanya aja ga lihat. Mereka sibuk main-tenance, saya sibuk main-main. Ya wajarlah kl hasilnya beda. 

Tidak ada kesuksesan yang diraih dengan kemudahan. Tiap capaian itu ada kerja keras di belakangnya. Jadi janganlah iri dengan kesuksesan orang, tapi tidak menduplikasi usahanya. Jangan mimpi kebanjiran orderan tapi cuma rebahan. Kl ada yang bilang, enak ya online seller, ga ngapa-ngapain aja ada yang beli, selepet juga nih. 

nb: sukses di sini tidak hanya merujuk kesuksesan dunia yah.

Add Comment