Sebuah Insight dari RM 310

Terus terang, Running Man (RM) akhir-akhir ini udah ga seru lagi. Tapi kalau saya nulis gini di forum penonton RM, saya bisa dimaki-maki fans lain dari seluruh dunia, hehe. Makanya demi perdamaian saya nulis gini di lapak punya sendiri aja.

Tapi, ada yang menarik bagi saya di RM episode sebelum terakhir (RM 310). Unlucky trio (Jae Suk, Suk Jin dan Kwang Soo) kembali jadi satu tim. Lokasi syuting di taman hiburan dan fans RM pasti tahu kalau mereka bertiga, selain ga beruntung, juga takut ketinggian dan permainan yang memacu adrenaline. Makanya mereka selalu melewati misi naik permainan menakutkan dan pilih yang gampang-gampang saja. Akhirnya mereka ketemu misi “torch relay” yang terdiri dari 3 permainan yang dimainkan secara relay. Pertama LKS main “hammer machine”, Sukjin melempar dart, dan Jaesok menembak. Setelah mereka berhasil menyelesaikan misi ini (itupun di percobaan kedua, haha), Jaesok dan Sukjin langsung besar kepala.

Jaesok bilang ke PD (program director) “we may not be able to ride things, but we can do other stuff”

Sukjin menyambar dengan semangat “we’re good at everything else!”

RM-310

we can do other stuff

Sebenarnya melihat mereka bluffing kaya gitu saya ketawa ngakak. Karena tahu kalau Sukjin juga ga bagus di game-game lain, haha.

Namun betapa ini pernyataan yang menyentuh banget. Kita semua pun gitu kan? Kita mungkin ga bisa melakukan satu-dua hal, tapi bisa jadi punya kepiawaian dalam hal lainnya.

[Nah omong-omong tentang RM tadi cuma pengantar, ini baru mau masuk pembahasan]

Hal ini juga yang sering saya camkan di kepala sendiri, kalau lagi sedih, kalau lagi down, kalau lagi putus asa, “optimal aja di hal-hal yang kamu bisa, Ludi!”. Karena sebagai manusia, punya banyak kelemahan, dan suka jadi sedih karenanya. Ko gw ga bisa begini sih, ko gw ga jago bikin ini sih, ko gw ga hebat kaya dia sih. Padahal setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Omong-omong tentang mengoptimalkan kemampuan, saya selalu teringat dengan American Football. Konon, saya tahunya dari komik Eyeshield 21, tidak perlu memiliki kemampuan lengkap untuk menjadi seorang atlet American Football yang hebat. Anggota Klub Deimon Devil Bats setidaknya begitu.

Di komik itu digambarkan bagaimana seseorang bisa berkembang sedemikian hebat pada spesialisasi masing-masing. Sena cuma anak SMA kurus kering lemah tapi bisa berlari cepat, kerjanya jadi pelari bawa bola. Monta si super catch, jago banget dalam menangkap bola, tapi dibenci sama pelatih baseball karena dia ga bisa melempar, arah lemparannya kacau, di American Football posisi receiver, menangkap bola aja tanpa perlu melemparnya ke pemain lain. Kurita yang gendut dan super lambat, tapi powernya dahsyat, jadi siswa SMA linebacker yang paling hebat seprovinsi. Musashi, kicker dengan tendangan akurat bahkan dari jarak 60 yard. Dan terakhir, Hiruma, speed biasa, kemampuan catch biasa, power biasa, kick gabisa, tapi jadi leader team dengan kemampuan strategi (dan kelicikannya, hehe). Sena ga sekuat Kurita, tapi Kurita tidak juga secepat Sena. Monta tidak bisa menendang bola, sebagaimana Musashi ga jago menangkap. Mereka, unggul dengan kekuatan masing-masing.

 

eyeshield-21-team

Beberapa waktu lalu Dewa Eka membagikan foto hasil talents mapping-nya. Saya yang pernah mengikuti tes serupa jadi ikutan melihat kembali hasil saya. Ada 34 bakat yang diurutkan dari yang kekuatannya terbesar ke yang paling kecil. Saya yang kadang merasa kehilangan arah (dalam profesi dan karir) ini jadi me-review kembali deretan kekuatan dan kelemahan itu. Mengevaluasi, apakah yang sekarang dikerjakan sesuai dengan bakat yang dimiliki. Apakah mimpi-mimpi yang rencananya dikejar kembali itu, sesuai dengan kekuatan yang dipunya.

Yah, sekali lagi, mungkin kita ga terampil dalam satu-dua hal, tapi kita bisa melakukan hal lainnya dengan sangat baik.

Mungkin di dunia ini memang ada orang-orang jenis jack of all trades, tidak perlu dicemburui juga. Karena manusia ibarat barang tambang, ada yang memang seperti emas, ada yang besi. Tapi besi pun punya kegunaannya sendiri.

Jadi, kenalilah potensi diri masing-masing, bersyukurlah. Kemudian asahlah agar kekuatannya optimal. Kenali pula kelemahan, bersyukur juga, ridhoi kalau itu memang kelemahan kita. Jangan habiskan waktu di sana.

Potensi bakatmu, sedang menunggu.

 

#notetomyself

Add Comment