Riba dan Gharar Dalam Transaksi Kontemporer

Mari kita mulai dengan pertanyaan “bagaimana hukum mempelajari fiqh muamalah?”

Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi memahami hukum muamalah maliyah adalah wajib bagi setiap muslim. Namun menjadi expert atau ahli dalam bidang ini adalah fardhu kifayah.

Minimal banget kita sebagai muslim tahu tentang fiqh muamalah maliyah ini. Karena kita pasti berurusan dengan aktivitas ekonomi dalam hidup. Jika ibadah mahdah misal 10 menit x 5 sehari = 50 menit. Sedangkan aktivitas muamalah mencari kerja atau nafkah bisa 8 jam sehari. Yang ga kerja pun akan ketemu urusan ini, misal ibu-ibu, belanja sayur, ikut arisan, dll. Bersinggungan dengan urusan ekonomi adalah niscaya.

Apalagi sebagai pelaku usaha, ini fardhu ain banget untuk mempelajarinya biar tahu rambu-rambu syari’ah soal muamalah maliyah dan tidak terjerumus ke dalam transaksi haram karena ketidaktahuan. Salah satu quote yang sangat pas untuk ini adalah dari Khalifah Umar bin Khattab Ra, “janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul seluk beluk riba”. Jadi, buat mas mbak yang jualan online, sudahkah memahami fiqh muamalah?

Mungkin yang paling kita tahu transaksi yang dilarang itu adalah judi karena dulu pernah dinyanyikan Rhoma Irama. Tapi sebenarnya ada 9 transaksi lain yang dilarang dalam syariat Islam selain judi. Bahkan meskipun sudah tahu judi dilarang, tahukah apa saja yang bisa tergolong maisir (perjudian) apalagi dalam praktik bisnis kontemporer? Tahukah kamu kalau hadiah perlombaan yang diambil dari uang pendaftaran peserta termasuk judi? Nah loh.

Bagaimana menentukan sebuah kebijakan atau produk ekonomi itu sudah sesuai dengan syari’ah? Ada 3 parameternya.
Pertama, terbebas dari transaksi yang dilarang.
Kedua, sesuai dengan akad atau transaksi syariah.
Ketiga, menjaga adab-adab Islam.

3 parameter ini diurutkan berdasarkan prioritas. Seleksi pertama adalah mesti lolos dari 10 transaksi yang dilarang. Yaitu riba, gharar, maisir, risywah, two in one (dua akad dalam satu transaksi), ihtikar, transaksi dengan objek akad non-halal, bai’un najasy, bai’ ad dai bil dain, dan bai’ al Inah.

Parameter kedua dan ketiga dipertimbangkan setelah lolos dari parameter pertama. Misal, parameter 3 adalah adab islami yaitu ikhlas, profesional, amanah dan berlaku adil. Contoh nih, kita ga perlu lagi mempertimbangkan apakah debt kolektor dari leasing konvensional ini ikhlas dan berlaku adil bagi si peminjam. Ga usah dibahas itu mah, karena parameter satu aja ga lolos yaitu terhindar dari transaksi yang dilarang.

Mari kita bahas transaksi yang dilarang.

 

RIBA

riba-dalam-transaksi-bisnis-kontemporer

Riba ada 2 macam, Riba Qardh dan riba Al Buyu’. Riba qardh adalah riba yang terjadi pada transaksi utang piutang atau gampangnya adalah riba dalam pinjaman. Hukumnya haram menurut seluruh ulama tanpa terkecuali dan merupakan dosa besar.

Riba qardh mencakup segala sesuatu manfaat lebih yang didapatkan oleh si pemberi pinjaman dan dipersyaratkan dalam akad. Jika tidak dipersyaratkan dalam akad maka dianggap hibah, bukan riba. Manfaat lebih ini mencakup semuanya, bukan cuma soal duit tapi juga termasuk hadiah, jasa, atau pertolongan yang dijadikan syarat dalam pinjaman. Misal, kamu mau kasih pinjam uang ke teman dengan syarat “tapi nanti boncengin gw pas pulang ya”, maka boncengan itu adalah riba. Lain cerita kalau kalian emang biasa boncengan dengan atau tanpa utang piutang. Hehe.

Jadi termasuk di sini adalah hadiah yang didapat dari bank konvensional tempat menabung. Misal, lazim terjadi, bank konvensional memberikan hadiah diskon jika nasabah belanja di merchant tertentu dengan pembayaran dari rekening bank ybs. Pernah kan dengar atau mengalami? Ini riba saudara-saudara. Lah, tapi kita kan sebagai nasabah ga pernah kasih syarat ke bank buat ngasih kita diskon, jadi hibah dong bukan riba? Pertanyaan ini saya ajukan ke Ustadz Oni saat training kemarin. Jawabannya kira-kira gini, “ini kan ngomongin bank konvensional, jadi dari parameter pertama aja udah ga lolos yah”. Tamat.

Selama ini sebenarnya saya sering bertanya-tanya, kenapa menabung di bank konvensional disebut transaksi riba, kan kita menaruh uang di bank. Bukan ngutang. Saya pikir, mungkin karena bunga yang nasabah dapat diambil dari keuntungan bank hasil riba qardh ke para peminjam di bank, jadi kita dosa karena kerjasama dalam kemungkaran aja gitu, atau kena debu-debu riba. Lalu ini saya tanyakan di kelas Madrasatun Nisa (MN), pembicara (Bpk Aziz Budi, dosen SEBI) menjawab “karena akad antara nasabah dan bank adalah akad utang piutang. Bank dalam hal ini sebagai peminjam makanya dalam pembukuan bank dicatat sebagai kewajiban (buat bayar utang). Beda dengan bank syariah, kl di bank syari’ah ada yang dianggap sebagai titipan (wadiah)”. Oh, begitu ternyata.

Bagaimana nih kalau kita nabung di bank konvensional tapi bunganya ga kita ambil, atau kita ambil tapi disalurkan lagi sebagai dana non halal? Ada pertanyaan ini pas training, jawaban Ustadz Oni kira-kira gini, “kesertaan kita menjadi mitra bank konvensional sama saja memperkuat lembaga konvensional tsb. Kaidahnya, sesuatu yang haram maka sarananya juga haram”.

Jenis riba kedua adalah Riba Al Buyu’, yaitu riba akibat pertukaran barang sejenis yang beda kualitas, kuantitas, atau waktu penyerahannya. Transaksi jual beli ini hanya pada barang ribawi. Barang Ribawi ada 2, emas, perak, mata uang, dan makanan pokok yang menguatkan. Contoh masyhur untuk Riba Al Buyu’ di zaman Rasulullah Saw adalah jual beli kurma ditukar kurma yang beda kualitasnya. Kl zaman sekarang yang paling gampang adalah tukar recehan baru dengan pecahan besar dengan nilai yang berbeda pas mau lebaran. Loh, tapi ini kan dilakukan suka sama suka, yang beli recehan ridho ko kl nilainya lebih sedikit dari yang dibayarkan? Ingat, kesesuaian (compliance) syari’ah bukan diukur dari suka sama suka, tapi 3 parameter tadi. Ini masuk riba, jadi mau pelakunya profesional, amanah, ikhlas, parameter pertama aja udah ga lolos.

Gimana dengan money changer? 1 dollar ditukar 15.000 rupiah tapi sekarang udah turun, Alhamdulillah. Dollar nya menang banyak tuh. Transaksi macam ini bukan riba dengan syarat dibayarkan tunai (di waktu yang sama, bukan transaksi forward).

Bagaimana solusinya? Riba buyu’ solusinya adalah untuk pertukaran barang sejenis harus sama nilainya dan tunai. Pertukaran barang beda jenis, harus tunai. Riba qardh solusinya pinjaman sosial tanpa bunga, akad bagi hasil. Bisa juga dengan akad pinjam meminjam diganti dengan jual beli.

GHARAR

Kata kunci gharar ada 2, ketidakpastian dan ketidakjelasan. Gharar adalah transaksi yang memiliki ketidakpastian terhadap barang yang menjadi objek baik berupa kualitas, kuantitas, harga, dan waktu penyerahan barang.

jual-beli-gharar

Kriteria gharar yang dilarang
1. terjadi pada akad bisnis (jual beli, ijarah, syirkah) bukan pada akad sosial (tabarru’).
2. Termasuk gharar berat. Yang dianggap gharar berat adalah bisa dihindarkan dan menimbulkan perselisihan di antara pelaku akad. Jika tidak bisa dihindarkan dan dimaklumi pihak yang terlibat, dianggap umum oleh masyarakat, maka boleh.
3. Terjadi pada objek akad. Jika gharar terjadi pada barang pelengkap maka dibolehkan.
4. Tidak ada hajat (kebutuhan) syar’i terhadap akad. Andai ga melakukan transaksi tsb, dia juga ga bakal kesulitan, maka ghararnya dilarang.

Diperjelas lagi yah, gharar itu ada yang dilarang dan ada yang dibolehkan, seperti kriteria yang tadi sudah disebutkan. Contoh gharar ringan adalah jualan rumah yang pondasinya tidak terlihat. Meskipun pembeli tidak bisa lihat pondasinya, tapi ini tidak bisa dihindarkan, masyarakat juga sudah maklum dengan hal seperti ini. Contoh gharar berat jual hewan yang masih dalam kandungan, jual barang tanpa diberitahu spesifikasi nya, atau akad salam tapi tidak jelas kapan ada barangnya.

Menyoal gharar karena objek akad, contoh gampangnya adalah kinder j*y. Wkwkw. Itu sebuah makanan yang sebelahnya krim sebelahnya mainan. Ketika beli, kita gatau isinya mainan apa. Maka ini gharar. Nah loh. Tapi masuk gharar dilarang atau dibolehkan? Kalau Ustadz Mukhlis di kelas MN, balik lagi tanya ke peserta, menurut yang beli, mainan itu objek utama atau pelengkap? Kalau yang beli mengutamakan mainannya, ya jadi gharar yang dilarang, tapi kalau bagi dia mainan adalah pelengkap aja, yang utama adalah krim nya, maka boleh. Allahua’lam.

Gimana dengan beli grosiran yang tidak bisa pilih ukuran dan motif, di online banyak yang begini, murah banget tapi tidak bisa pilih, penjual yang memilihkan dan pembeli harus terima? Waktu saya tanyakan ini, ustadznya balik tanya, ukuran dan motif bagi pembeli itu utama atau pelengkap? Kalau bagi pembeli yang penting jumlahnya sesuai, ga peduli dapat motif apa, ukuran apa, maka dibolehkan. Maka ini sifatnya subjektif. Ada salah satu peserta MN lain cerita pernah beli grosiran macam ini, dia dapat barang kebanyakan yang jelek atau ukuran kecil, jadi kecewa. Dan ustadz menutup jawaban dengan pernyataan kira-kira begini, “(terlepas dari masuk gharar dilarang atau dibolehkan) sebaiknya jual beli itu yang antarodhin, sama-sama ridho, di situlah letak keberkahan”.

Sungguh ini jawaban nampol banget buat saya. Mengingatkan kembali banget bahwa jual beli itu, meskipun kita untung, tidak ada aturan yang dilanggar, tapi kl ga antarodhin mending jangan ya, kan kita cari berkahnya.

Termasuk dalam gharar adalah asuransi konvensional. Karena dalam asuransi konvensional ada jual beli risiko di mana harga belinya adalah premi sifatnya pasti nominalnya sedangkan obyek yang dijual adalah biaya pertanggungan yang ga pasti. Asuransi konvensional yang ngetop apa saudara-saudara? Iya contoh BPJS. Meskipun pernah ada kawan wa saya nanya, kenapa BPJS dianggap haram padahal kan sangat bermanfaat bla-bla-bla, lalu saya jawab, parameter kesesuaian syari’ah itu bukan manfaat atau tidaknya, tapi ada kriteria lain. Tapi jawaban saya sepertinya ga dibaca karena tadinya centang biru, terakhir centang abu doang. Kzl ya, hehe.

MAISIR ATAU PERJUDIAN

maisir-dalam-bisnis

Kata kunci maisir atau judi adalah taruhan. Maisir adalah setiap permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain. Maisir bisa mencakup bisnis, permainan dan pertandingan.

Kriteria maisir menurut Syaikh Rafiq Yunus Al Mishri
1. Taruhan, sehingga pelaku bisa menang dan kalah
2. Pelaku berniat mencari uang dengan mengadu nasib
3. Pemenang mengambil hak orang yang kalah
4. Harta yang dipertaruhkan berasal dari peserta (pelaku) bukan dari sponsorship dsb

Contoh praktik modern maisir (perjudian) adalah spekulasi mata uang, spekulasi di pasar modal, money game dalam MLM, asuransi konvensional, dan perlombaan yang hadiahnya dari uang pendaftaran peserta atau taruhan dalam permainan.

Saya tidak akan membahas soal spekulasi mata uang atau pasar modal, karena saya juga ga ngerti dan ga melakukan. Hehe. Intinya, dalam Islam, risiko dalam usaha itu niscaya, bisnis bisa untung bisa rugi. Menurut fiqh, bisnis bagi hasil itu untung tanggung bareng, rugi juga tanggung bareng. Jadi spekulasi dalam praktik maysir dilarang karena mengambil hak orang lain secara batil.

Yang lebih banyak saya temui adalah maisir dalam bentuk perlombaan yang pakai uang pendaftaran dan hadiahnya dari situ. Atau ada juga bentuk pertaruhan poin yang didapat untuk bisa melakukan permainan dan dari permainan itu ada kemungkinan mendapat poin lebih banyak, ini terjadi di marketplace.

3 transaksi dilarang itu saja yang saya bahas, tidak kesemuanya 10. Karena waktu training juga yang banyak dibahas 3 itu dan cuma 3 transaksi itu yang masuk topik Madrasatun Nisa, hehehe. Tapi saya mau tambahkan 1 lagi, bai’un najasy.

Bai’un Najasy

Najasy adalah rekayasa demand atau penawaran fiktif. Jadi misal ada seorang penjual yang merekayasa demand, misal dengan meminta orang melakukan penawaran palsu, pura-pura mau beli biar kelihatannya dagangannya laris lalu orang jadi pada pengen beli juga atau berani membeli dengan harga lebih tinggi, ini namanya najasy.

Kata kunci najasy adalah rekayasa. Kenapa saya tertarik dengan ini, karena dulu pernah menjadi saksi praktik social proofing FB ads, yaitu ketika akun kloningan pada komen di postingan iklan seolah-olah mereka tertarik dengan produk yang dijual. Teman saya nanya “ini bai najasy ga sih?”, waktu itu saya bahkan baru pertama kali baca kata najasy.

Lantas gimana dengan pemilik rumah makan yang menaruh banyak kendaraan di parkiran biar kelihatan seolah restorannya banyak pengunjung? Atau misal nyuruh orang antre beli berderet-deret di depan warungnya? Saya tanyakan ke Ustadz Oni dan jawabannya gini “kata kunci najasy adalah rekayasa. saya kembalikan lagi kepada Bapak/Ibu, silakan dipertimbangkan sendiri, hal seperti ini apakah rekayasa atau strategi marketing saja?”. Nah, jadi disuruh tanya ke hati masing-masing. Huhu.

 

Haram Yang Dibolehkan

Untuk hal-hal yang haram, misalnya yang disebutkan di atas BPJS, maka hukumnya jadi boleh hanya jika darurat. Kriteria darurat pun harus sesuai syariah.

Produk/jasa haram dibolehkan jika
1. Tidak ada alternatif yang halal
2. Adanya kebutuhan/hajat primer yang terancam
(fyi, untuk kriteria darurat secara syariah ini pernah dibahas Ustadz Oni di salah satu kajian Ahad pagi (KAP) MUI, enaknya menyimak dari situ karena dijelaskan lengkap ke dharuriyatul khamsin juga. Tapi silakan cari sendiri rekamannya, hehe)

 

Demikian penjelasan singkat mengenai Fiqh Muamalah Maaliyah, khususnya Riba, Gharar, dan Maisir serta praktiknya dalam transaksi bisnis online dan kontemporer. Semoga bermanfaat.

 

Tulisan ini saya rangkum dari materi Talaqqi One Day Training “Bedah Fikih Muamalah & Pengelolaan Keuangan Syariah”, pematerinya Ustadz Oni Sahroni dan dari 3 pertemuan Kelas Fiqh Madrasatun Nisa (MN) 8: Riba, Gharar, dan Maysir. Pematerinya Ustadz Aziz Setiawan dan Ustadz Mukhlis adiknya Pak Banu Muhammad.

Add Comment