Review Film Ayat-ayat Cinta 2

Sebelum memulai review ini izinkan saya memberitahu beberapa hal, pertama, saya ga baca novel Ayat Ayat Cinta 2 dan bukan penggemar karya Kang Abik. Kedua, saya ga baca review viral tentang film ini, cuma baca sedikit punya teman. Oke lanjut.

Fedi-nuril-ayat-ayat-cinta-2

Fedi Nurilnya Ganteng


Bisa dibilang senyum hampir selalu muncul di wajah saya waktu nonton film ini, simply karena Fedi Nuril ganteng (wkwk). Ditambah tokoh Fahri kan soleh charming gimana gitu yah. Dan sepanjang film saya cukup terganggu dengan pikiran sendiri soal, lebih suka mana Rangga (99CDLE) atau Fahri (AAC) dan mana yang lebih charming, Abimana atau Fedi Nuril. Ga penting banget kan? Haha. Sampai sini kalau ga mau lanjut membaca boleh banget ko.

Saya suka aspek visual di film ini. Suka lihat pemandangannya, bangunannya. Dan berhubung saya gatau itu beneran Edinburgh apa bukan, alhamdulillah saya jadi ga terganggu dengan itu. Nikmati aja sik.

Tapi, gatau yah ini subjektif saya aja, entah karena ga pernah nonton TV, lama ga nonton film, atau setahun (lebih) ga ke bioskop, saya terganggu dengan pengambilan gambar yang terlalu dekat. Itu muka pemain kelihatan menuhin layar mulu, terlalu sering yang close up. Mungkin pengaruh biasa nonton variety show yang kebanyakan ngambilnya long shot.

Melihat sosok Fahri di film ini, alih-alih pengen punya suami kaya gitu, saya lebih pengen punya uang sebanyak itu. Hahaha. Di film itu ditunjukkan betapa muslim itu perlu kaya. Kekayaan yang digunakan untuk kebaikan. Dan betapa, Rasulullah saw pun pernah bilang, sebaik-baik harta adalah di tangan orang solih. Nah, di film ini diperlihatkan bagaimana orang solih, kaya, dermawan, menggunakan hartanya.

Tadinya saya sempat gemes juga, yaelah ini Fahri jadi daddy long leg buat banyak orang. Berlebihan amat sampai membelikan rumah buat tetangga. Rumah loh ya. Tapi kalau dipikir-pikir, kan orang kaya. Mampu aja sih. Kl saya motor aja 13 tahun ga ganti, orang kaya bisa beli mobil dalam semalam. Dan ternyata dia berbuat baik gitu untuk menutupi rasa sedihnya, cukup bisa diterima. 

Saya kurang suka novel Kang Abik karena menurut saya too much drama dan too good to be true. Jadi waktu nonton film ini saya maklum aja, emang gini style ceritanya Kang Abik kan. Semisal semua tetangga Fahri hidupnya berkonflik semua. Atau ada cewek yang meyakini bahwa caranya membalas budi adalah dengan rela dinikahi. Aneh banget, dalam hati saya, lah justru situ minta dinikahi oleh pria beristri yang ga niat cari istri lagi itu bukan balas budi tapi ngerepotin sis.

Ustadz bilang ada sebuah peribahasa Arab, “al insanu abdul ihsan“. Manusia itu hambanya kebaikan. Maksudnya, kl mau membuat orang takluk hatinya, berikanlah kebaikan padanya. Itulah yang dibuktikan di film ini dengan takluknya semua tetangga Fahri.

Sebenarnya kalau memang mau bikin tulisan “7 hal ga masuk akal di film AAC2” versi om cepot mah gampang. Pertama dari suami yang ga mengenali istrinya sendiri. Tapi kan masih banyak hal positif lain dari film ini. Misalnya dari isu Palestina yang diangkat, contoh memuliakan tetangga, menjaga hijab dan hubungan dengan yang bukan mahram. Ada lah ibroh yang bisa diambil. 

Sayangnya tidak ada quote yang mengena banget buat saya di film ini. Dialognya biasa aja, gada yang “dalem” gitu. Fahri di sini juga ga terlalu kelihatan menonjol kepintarannya padahal dia dosen universitas top di dunia. Mungkin karena di film ini dia ga pernah dapat kesempatan menjawab pertanyaan sulit. Debat ilmiah juga kenapa jadi testimonial gitu yah. 

Oiya, ada 1 adegan yang bikin saya hampir nangis. 1-1nya adegan yang buat saya terharu di film ini. Waktu imam menghampiri Fahri habis solat dan dia berterima kasih karena Fahri sudah mengoreksi bacaan Qur’an-nya. Plot twist karena tadinya sang iman dikabarkan tersinggung. Masya Allah, sikap terbuka terhadap koreksi itu loh, padahal dia seorang pemimpin, tapi ketika diluruskan, ga jadi sakit hati atau memusuhi. Rindu dengan pemimpin yang seperti ini. Menerima koreksi dengan lapang dada dan syukur ada orang yang mau meluruskan. Itu kayanya best scence di film ini versi saya. Pasti beda dengan jutaan penonton lainnya. 

Well, apakah para jomblo setelah menonton film ini jadi mendambakan punya suami kaya Fahri? Saya sih ga terlalu, hehe. Bisa tebak kenapa? Karena sepertinya bersama pria yang populer di kalangan perempuan akan melelahkan. 

Add Comment