Review Drama Korea The City Hall

Seperti biasa, saya review drama jadul. Karena emang ga nonton drama baru juga sih. Drama ini dibuat tahun 2009, saya nonton pertama juga tahun itu. Ditayangkan di tv swasta di Indonesia, saya nonton pakai monitor komputer yang dipasang tv tuner. Sungguh jadul sekali.

Review ini akan panjang dan banyak spoiler. Karena ini drama jadul, kemungkinan cuma 2, Anda pernah nonton, atau kl pun mau nonton udah ga ketemu lagi dramanya di internet. Jadi gapapa lah spoiler sekali-kali. Anda sudah diingatkan.

Drama ini bercerita tentang Shin Mirae, pegawai negeri golongan terendah yang bekerja di balai kota Inju. Mirae bekerja sebagai sekretaris Walikota, spesialisasinya bikin kopi. Suatu hari Mirae ikut kompetisi kecantikan yang diadakan Pemkot, motivasinya sederhana, duit. Mirae terjerat utang kartu kredit dan maksain diri ikut kompetisi ini karena tergiur hadiah uangnya.

Dari sinilah semua konflik dimulai. Kompetisi kecantikan ini sebenarnya akal-akalan walikota dan seorang anggota dewan untuk korupsi demi dana pemilihan gubernur yad. Tadinya mereka buat kompetisi bohongan ini dengan seorang kandidat yang akan mereka menangkan. Tapi karena keikutsertaan Mirae menarik perhatian menteri pemberdayaan perempuan di sana, mereka ganti rencana, Mirae lah yang dimenangkan. Sejak awal memang sudah direncanakan kl hadiah tidak akan diberikan, karena mereka pikir Mirae cuma wanita polos yang gampang ditipu.

Mirae yang ikut kompetisi demi uang tentu ga terima ketika dia ga dapat uangnya. Akhirnya dia melakukan demo di depan balaikota berhari-hari menuntut hak. Selama demo Mirae mendapatkan berbagai tekanan, yah namanya juga demo melawan penguasa, termasuk dipecat dari pekerjaannya. Kadang pas demo bajunya ditarik-tarik, pernah juga dilempari telur oleh massa bayaran. Mirip banget ya sama kejadian di sebuah negeri, ketika orang yang mengeluarkan pendapat tidak sejalan dengan pemerintah dipersekusi.

Pada akhirnya, kegigihan Mirae ini membuahkan hasil. Uang hadiah didapat. Tapi ternyata efeknya ga sampai di situ. Skandal korupsi walikota terbongkar dan berujung pemecatan. Mirae yang saat itu pamornya sedang naik, dapat simpati dari masyarakat, disuruh jadi kandidat walikota.

Mirae ini cuma wanita kebanyakan. Bukan orang kaya, kuat, pejabat, ataupun orang pintar karena dia ga pernah minum tolak angin. Mirae didorong untuk maju ikut pemilihan oleh Joh Guk. Deputi walikota yang dikenal cerdas dan punya karir politik yang melesat. Joh Guk janji akan backup Mirae secara penuh. Akhirnya Mirae pun mau maju.

Mirae cuma wanita kebanyakan. Dia ga punya latar belakang politik, hanya berbekal niat baik. Dari dulu Mirae ini sosok yang akrab sama tetangga dan ringan tangan. Makanya dia tulus mau memajukan kotanya.

Singkat cerita, Mirae terpilih jadi walikota.

Setelah jadi walikota, jangan pikir masalah selesai, justru makin banyak. Mirae yang polos akhirnya menemukan banyak realita kejam ketika jadi walikota.

Pertama, Mirae ini maju sebagai kandidat independen, bukan dari parpol. Jadi dia ga punya dukungan dari parpol manapun. Asli berjuang sendirian.

Kesulitan ga punya backup partai adalah sering kalah suara di DPRD. Jadi ketika Mirae punya program dan diajukan ke DPRD, anggota dewan voting, Mirae selalu kalah. Banyak program dia yang gabisa jalan karena gada dana dari pemerintah daerah. Apalagi ada 1 partai pendukung walikota lama yang dendam banget sama dia. Dari sini saya jadi kebayang beratnya hidup sebagai kandidat independen atau bahkan partai gurem. Nyaris ga punya power. Makanya jangan heran kl dulu ada cagub DKI yang awalnya bilang mau maju independen, dia cuma pakai teman. Galang kekuatan dari relawan bernama teman, eh ujung-ujungnya dia merapat ke partai juga. Mungkin ada temannya yang jadi kapok, tapi inilah realita politik, sulit kl jalur independen, nanti gada yang belain di DPRD. Jadi Mirae ini sering mengajukan dana provinsi untuk menjalankan programnya.

Tantangan kedua adalah kepala biro di Pemkot yang rame-rame mengundurkan diri. Mereka dipengaruhi, gengsi, hasutan, dan dengki. Ga terima kl Mirae yang dulunya cuma 10th grade civil servant (golongan terendah PNS di Korea) jadi bos mereka.

Masih ingat kan kl Mirae cuma wanita kebanyakan? Dari mana dia dapat dana kampanye? Di mana-mana, kampanye itu butuh dana. Jangankan kampanye, promosi dagangan aja pakai biaya iklan. Semua kebutuhan kampanye Mirae diurus sama Joh Guk, salah satunya pendanaan. Mirae gatau kl untuk kampanye, Joh Guk juga cari sponsor dari kalangan pengusaha. Ketika dia mulai menjabat, mulailah para pengusaha ini menuntut jatah.

Sebenarnya realita paling kejam dari ini semua adalah ketika Mirae tahu kl dia cuma walikota boneka. Jadi dia ini digadang-gadang jadi walikota karena dianggap sosok polos yang nanti bisa dikendalikan ketika berkuasa. Dia cuma dimanfaatkan karena popularitas yang sedang naik saat itu. Yang menjadikannya boneka tak lain tak bukan adalah Joh Guk, orang yang selama ini banyak mendukungnya, bahkan ketika dia dulu suka demo depan kantor balaikota. Sakit tapi ga berdarah.

Salah satu sponsor dana kampanyenya adalah perusahaan yang juga sponsor partai salah satu tokoh paling berpengaruh di Korea yang mau maju jadi kandidat capres. Punya hubungan dekat dengan Joh Guk. Jadi mereka emang dari awal udah mengincar Inju karena dianggap gampang ditaklukkan. Nanti dana yang didapat perusahaan ini di Inju, bakal dipakai juga buat kampanye capres.

Pelik lah pokoknya.

Yang mereka semua ga menyangka adalah ternyata Mirae ini bukan boneka penurut. Shin Mirae fight back. Dia kuat dan gabisa dikendalikan. Berkali-kali Mirae berusaha dijatuhkan. Disebarkan cerita bohong hingga dikriminalisasi. Mirae sempat diciduk polisi, diinterogasi berjam-jam di Bareskrim, dijatuhkan mentalnya. Berat banget perjuangannya.

Sponsor utama kampanye Mirae ini pengen bangun perusahaan pengolahan limbah di Inju. Sebenarnya Mirae sih mau aja kl memang ada perusahaan yang mau bangun proyek di Inju, dia juga mau kotanya maju dsb. Tapi dia mau cari tahu dulu kl ini perusahaan emang beneran baik bukan licik.

Akhirnya terbongkar kl limbah yang mau diolah adalah limbah berbahaya. Sengaja dipilih Inju biar mulus jalannya karena walikotanya boneka. Mirae berusaha habis-habisan menolak.

Yang bikin sedih adalah ketika Mirae sudah diancam sana-sini, masyarakatnya sendiri pun ga mendukung dia. Ketika suatu hari dia gamau menandatangani MOU dengan perusahaan limbah ini, Mirae malah dimaki-maki sama warga. Mereka marah Mirae menggagalkan proyek itu, karena perusahaan mau membeli tanah mereka untuk dibangun pabrik. Mereka ngamuk sama walikota karena tanahnya gagal dibeli. Geregetan ga? Pesan moralnya adalah manusia ya memang begitu, serakah dan oportunis, hanya peduli pada kepentingan pribadi. Tapi begitu yang ngamuk ini pada pergi, tersisa warga yang mendukung dan berterima kasih pada Walikota Shin yang memikirkan kebaikan Inju. Pesan moral berikutnya, di antara orang-orang serakah dan egois, masih ada orang baik yang tidak menuhankan uang.

Meskipun perjuangan Mirae berat dengan musuhnya di mana-mana, tenang aja, ini drama Korea. Di mana-mana drama mah happy ending. Perjuangan Mirae berbuah manis. Joh Guk yang awalnya menjadikan Mirae walikota boneka pun akhirnya berjuang bareng Mirae melawan si tokoh nasional yang menugaskan dia di Inju. Perusahaan pengolahan limbah pun mengurungkan niatnya, mereka mau bikin pabrik yang lebih bermanfaat buat Inju. Orang-orang di balaikota juga mulai mencintai Mirae dan menyadari ketulusannya. Di bawah pemerintahan Mirae, banyak perubahan yang terjadi di Inju. Kebijakannya banyak berpihak pada rakyat kecil. Walikota Shin tetaplah Shin Mirae yang sederhana, pulang pergi ke balaikota naik sepeda, senang membantu tetangga, dan suka berderma (asik ada rimanya).

Drama ini judulnya The City Hall. Terdiri dari 20 episode. Bukan drama Korea yang populer untuk penonton Indonesia, meskipun di negara asalnya ratingnya cukup tinggi. Kl lihat artikel tentang drama Korea favorit, drama ini ga pernah ada di peringkat atas, bahkan gada di list. Mungkin karena temanya yang berat, politik gitu. Orang kan demennya yang cinta-cintaan. Pemainnya juga tergolong agak tua, lebih cocok disebut ahjussi ketimbang oppa.

Ga seperti kebanyakan drama Korea yang biasanya punya hook (atau bait) yang kuat di episode pertama sehingga bikin orang penasaran nonton episode berikutnya. Drama ini justru kurang menarik di episode awal, pas Mirae ikutan kompetisi kecantikan. Konfliknya makin menarik ketika dia udah jadi walikota, dan terus makin menarik hingga di episode terakhir. Apalagi ketika Mirae sudah demikian terjepit untuk menandatangani MOU dengan perusahaan limbah.

Drama ini bikin terharu banget di bagian akhir, ketika Mirae menyerahkan diri ke polisi, pas sampai di kantor polisi udah berkumpul warga yang demo untuk membelanya. Dan wakil walikota yang selama ini benci pun mendukungnya. Pesan moral, usaha tidak mengkhianati hasil.

Di drama ini buat saya banyak insight yang bisa diambil. Adegan 15+ nya mah bisa diskip. Pertama kali saya dapat gagasan jangan nawar ke pedagang kecil juga dari drama ini, jauh sebelum ramai di sosmed.

Ada seorang teman pernah nulis, dana kampanye seorang kandidat sekian milyar, jadi begitu dia terpilih pasti bakal cari duit biar balik modal. Benar memang, dana kampanye itu besar. Makanya partai miskin ga bakal dilirik buat diangkat jadi calon kandidat di pemilihan besar macam pilpres. Tapi, ga semua kandidat itu punya niat nyolong biar balik modal. Banyak juga caleg yang maju tanpa modal pribadi.

Waktu saya nonton drama ini di 2009, saya banyak membandingkan dengan politik di sini. Tentang kandidat independen, tentang voting di DPR, tentang dana kampanye, tentang black campaign, tentang orang baik yang tulus mau memperbaiki bangsanya. Melihat Walikota Shin yang digencet sana sini, saya jadi mikir, begitulah orang baik di tengah pusaran politik. Tingkatan terendahnya mungkin bully di sosmed. Hehe.

Saya mah sama dengan Shin Mirae, cuma wanita kebanyakan. Bedanya dia jadi walikota, saya cuma netizen penulis review drama Korea. Tapi dengan carut marutnya dunia perpolitikan ini, saya masih memilih untuk percaya, bahwa orang baik kaya Shin Mirae di Indonesia ini masih ada.

Add Comment