Pengalaman Wisata Sumatera Barat: Maninjau dan Bukittinggi

Ini adalah tulisan lanjutan dari cerita pengalaman saya backpacking ke Sumatera Barat. Di tulisan bagian pertama sudah dibahas perjalanan saya di Kota Padang dan Payakumbuh. Kali ini saya akan bahas Bukittinggi.

 

Maninjau

Awalnya saya bingung dan menyesal karena mengalokasikan 6 hari di Padang (atau Sumatera Barat). Waktu itu saya beli tiket sebelum punya itinerary, jadi kira-kira doang, berangkat Kamis pulang Selasa sudah. Setelah menemukan banyak kesulitan pas bikin itinerary, rasanya galau dan menyesal banget, kenapa segitu lama estimasinya.

Tapi ternyata setelah bikin rencana perjalanan, wuah, malah kurang waktunya. Banyak banget yang bisa dikunjungi di Sumatera Barat. Bahkan, setelah akhirnya saya memutuskan untuk stay di Bukittinggi dan memulai semua perjalanannya dari sini, saya malah ga punya waktu untuk mengeksplor kota Bukittinggi nya sendiri. Alhamdulillah pas sudah sampai di TKP, kenyataan berjalan lebih manis dari perencanaan.

Mulai hari ini saya benar-benar solo trip di kota ini. Senang sih. Ga perlu kompromi sama orang dan bisa mengatur perjalanan sesuka hati. Meskipun tetap ada kekurangannya juga, gada teman bingung bareng. Hehe. Semua harus diselesaikan sendiri.

Rencananya hari ini mau ke Danau Maninjau melewati kelok 44 dan Puncak Lawang. Semua dengan angkutan umum. Saya baru tahu tentang Puncak Lawang dari google, katanya kalau ke Maninjau jangan lewatkan Puncak Lawang, soal bagaimana caranya ke sana pakai kendaraan umum, saya juga gatau.

Menurut info hasil googling, untuk ke Maninjau naik bis Harmoni atau Harmonis dari terminal, awalnya saya berencana naik itu, tapi kakak pemilik penginapan merekoendasikan lain. Jadi, penginapan yang sekarang saya tempati (saya pindah penginapan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari penginapan sebelumnya dengan alasan lebih ekonomis) kakak-kakak pemiliknya itu super informatif, baik hati, dan banyak kasih fasilitas yang membantu wisatawan. Selain bisa minta layanan antar jemput cucian kotor dari laundry terdekat, si kakak juga menyediakan peta, link penyewaan motor, dan jawaban selengkapnya kalau kita tanya. Sambil sarapan, saya yang pada dasarnya suka ngobrol, sekalian cerita kalau hari ini mau ke Maninjau sendirian, mengetahui hal itu si kakak kasih rekomendasi naik travel, dijemput di penginapan sini. Bagaikan gayung bersambut. Diapun telepon pihak travel dan minta datang ke sini jemput saya. Yes. Alhamdulillah.

Kelok 44

Travel datang menjemput tepat di depan penginapan. Perjalanan menuju Danau Maninjau melewati kelok 44 yang terkenal itu. Suka. Perjalanan melewati kelok 44 ini menarik, karena selain jalannya seru, saya juga suka memperhatikan kebiasaan pengemudi di sini untuk memberi kesempatan kendaraan yang naik dulu. Kelokan sambil menanjak, dengan kendaraan besar yang lewat, tapi meskipun terasa serem, pengemudinya pada tertib.

Ongkos travel dari Bukittinggi ke Danau Maninjau 30.000 rupiah. Berbekal tanya-tanya, saya diturunkan di tempat yang menurut sopir dan penumpang lain adalah Danau Maninjau.

Tepian Danau Maninjau

Kata abang ojek setempat, kalau mau ke Danau Maninjau ya tinggal masuk aja jalan kaki. Hampir semua gang di situ kalau kita ikutin ujungnya pinggir danau. Akhirnya saya pilih satu gang dan masuk. Bingung. Sepi. Jalannya ini kaya jalan setapak di tengah pemukiman. Melewati rumah orang sampai akhirnya di pinggir danau, lokasinya di halaman belakang rumah orang. Apa-apaan ini. Bingung saya. Yang terlihat di depan air luas yang ga kelihatan tepinya. Udah gitu aja. Dan saya cuma bisa melongo, merasa aneh, ada di kampung asing, berdiri di halaman belakang rumah orang cuma demi melihat air begini. Ckckck.

Sayapun jalan lagi ke luar, kembali ke jalan raya tempat awal diturunkan. Katanya kalau mau lihat Danau Maninjau bisa lewat hotel Maninjau. Tadinya saya sungkan, bukan tamu hotel itu dan masuk Cuma buat numpang lihat danau. Tapi karena udah sampai sini, yaudah modal muka tembok aja. Saya masuk dan izin ke resepsionis hotel untuk lihat danau, dia membolehkan. Sayapun masuk ke restoran hotel, spot tempat lihat danau. 

Pemandangannya sesungguhnya sama saja dengan yang tadi, wkwkwk, air aja udah. Cuma bedanya ini lebih berkelas, di restoran hotel, tadi di belakang rumah orang. Salah satu kesamaannya adalah saya sendirian, di restoran inipun cuma saya sendirian.

tepian-danau-maninjau

Beginilah Pemandangannya, Air Sejauh Mata Memandang

Sekitar 15 menit saya di situ tiba-tiba hujan turun lebat banget. Angin kencang ditambah petir. Alhamdulillah saya lagi di bawah atap. Tapi jadinya lagi-lagi perjalanan ini tertunda, saya Cuma bisa bengong melihat Danau Maninjau yang makin tak terlihat tepinya dan riaknya yang makin besar karena angin kencang.

Setelah reda sedikit, saya keluar dari hotel dan mulai jalan lagi. Setelah tepian danau yang menurut saya ga recommended ini, tujuan berikutnya adalah Puncak Lawang. Ada 2 pilihan yang saya tahu untuk ke Puncak Lawang dari sini, ojek atau travel. Sambil turun tadi saya sudah minta nomor telepon abang travel, karena kata dia kalau mau pulang naik travel dia lagi aja. Tapi kedua pilihan itu gabisa dipakai sekarang, pertama karena masih hujan, kalau saya naik ojek bisa basah semua. Kedua nunggu abang travel bisa bikin waktu banyak terbuang.

Akhirnya saya keluarkan lagi senjata pamungkas, GPS, gunakan penduduk sekitar. Hehe. Sambil nunggu hujan, saya makin sate padang sambil tanya-tanya si ibu penjual, bagaimana caranya kalau mau ke Puncak Lawang dari situ. Si Ibu bilang, ya travel kaya tadi saya naiki atau bis Harmoni. Tapi Ibu, gimana saya bisa membedakan itu mobil travel atau mobil pribadi? Sayapun minta tolong si ibu, nanti kalau ada travel lewat tolong bantu stopin, hehe. Ga lama bis Harmoni lewat. Ibu dan bapak penjual sate padang bantu nyetopin juga. Hore.

Dari danau naik Harmonis ke simpang Lawang ongkosnya 10.000. Turun di simpang, naik ojek dari situ (di situ ada pangkalan ojek), seperti di Harau kemarin, ojek ini akan mengantarkan kita masuk sampai ke luar lagi (PP). Sayapun tanya tarifnya, dia bilang 15. Deal. Kamipun masuk.

Dari simpang ke Puncak Lawang ternyata jauh saudara-saudara. Jauh banget dan jalannya menanjak. Sepanjang jalan, selain kagum dengan masya Allah pemandangannya super, saya cemas, ya Allah itu tadi abangnya minta 15, sebenarnya 15 apa? Saya pikir 15.000, ko ternyata jauh gini, mana mungkin 15.000, jangan-jangan ternyata 150.000, waduw, bangkrut eike. Begitulah kepusingan saya sepanjang jalan menuju dan balik dari Puncak Lawang. Wkwkwk.

Puncak Lawang

Danau-Maninjau-dari-Puncak-Lawang

Bahkan Kamera Ga Cukup Menggambarkan Keindahannya

Kalau boleh saya menyarankan, setidaknya dalam hidup, pergilah sekali ke Puncak Lawang. Seolah semua keindahan yang kemarin saya lihat, tergilas dengan pemandangan Danau Maninjau dari puncak. Ya Allah, kaya ga pengen pulang. Suka banget lihatnya. Kalau orang bilang seolah Danau Maninjau itu naik ke langit, iya bener. Ditambah posisi kita di ketinggian, seolah kita berada di atas awan. Dan, saya ke sana hari senin bukan musim liburan. Jadi alhamdulillah sepi. Cuma ada sekitar 5 orang di sana lagi pada selfi. Jarang banget bisa ke tempat wisata sepi gini, indah banget lagi. Alhamdulillah.

Tipikal ojek di tempat wisata begitu mungkin ya. Si abang ojek nungguin saya menuntaskan hajat cuci mata. Setelah itu dia masih mengantarkan saya ke tempat lain, padahal saya ga minta, gatau, dan ga merasa butuh lagi tempat lain. Bagus juga inisiatif abangnya. Tempat kedua adalah semacam menara pantau (saya lupa namanya) untuk melihat Danau Maninjau.

menara-pantau-danau-maninjau-di-puncak-lawang

seperti inilah menaranya

Setelah dari sini kami keluar. Berapa ongkos ojeknya? Ternyata awalnya emang abangnya minta 15.000. Tapi pas di luar dia naikin sih tarifnya jadi 35.000. Masih affordable lah.

Danau-Maninjau-dari-menara-Puncak-Lawang

pemandangan dari atas menara

Tidak disangka, ternyata perjalanan saya ke Danau Maninjau dan Puncak Lawang cukup setengah hari. Jadi saya masih punya waktu beberapa jam sebelum matahari terbenam hari itu. Saya pakai untuk lihat-lihat kota Bukittinggi.

Bukittinggi

Taman Panorama Ngarai Sianok

Destinasi pertama adalah Ngarai Sianok. Si Kakak pemilik penginapan bilang, ngapain ke ngarai, mending ke Panoramanya aja, justru bisa lihat pemandangan dari sana. Makanya sayapun memilih ke Taman Panoramanya. Di situ kita bisa foto-foto ngarai sianok dari ketinggian.

Kawasan Taman Panorama dan Lubang Jepang memiliki satu pintu masuk. Pintu dibuka pukul 07.30-17.30. Harga tiket masuknya 15.000 untuk dewasa dan 10.000 untuk anak-anak. 

Lubang Jepang

Masih di taman panorama ngarai sianok, ada Lubang Jepang. Untuk masuk ke lubang ini dibutuhkan pemandu (menurut pemandunya sih). Pas saya mau masuk, disamperin sama satu orang, mereka pemandu resmi tergabung dengan komunitas gitu. Tarif pemandu 1 orang 60.000. Kata saya sih itu mahal. Karena saya sendirian, berarti 60.000 saya bayar sendiri, tidak bisa patungan dengan orang lain dan tidak diberi diskon juga. Ogah. Sebenarnya bisa saja masuk tanpa pemandu, tapi di dalam katanya gelap dan tidak ada penunjuk jalan. Si pemandu terus-terusan bilang “tadi ada yang masuk sendiri ga pakai pemandu nyasar sampai 3 jam kak”. Dan saya termakan strategi marketingnya yang berupa scarcity itu. Sayangnya marketingnya ga berhasil, saya cuma jadi takut tanpa order. Haha. Mahal. Capek. Risiko nyasar 3 jam pula. Skip.

Dari Taman Panorama saya bermaksud ke Janjang Seribu. Di luar taman panorama, saya naik ojek untuk diantarkan ke Janjang Seribu. Sebenarnya lokasinya tidak jauh, cuma ke bawah sedikit, tapi capek juga kalau jalan kaki. Sama abang ojek saya diantar lewat jalan-jalan tikus. Andai ga naik ojek mungkin ga akan tahu jalan itu. Sekali lagi, power of ojek, si abang mengantarkan saya lewat pematang sawah. Jadi sebelum sampai janjang seribu, kami melewati persawahan, dan di tengah sawah itu dibuat jalan beton tapi cuma muat untuk satu motor itupun pas-pasan banget. Abangnya lewat situ. Ngeri-ngeri Seru.

areal-sawah-dekat-janjang-saribu

cantik banget, terima kasih ya Allah, terima kasih bang ojek

Jalan yang bisa dilalui motor ini mentok di depan jembatan. Si abang ojek mengantarkan saya sampai situ. Janjang seribu ada di seberang jembatannya. Saya sekalian tanya, di mana yang jual signature dish yang katanya enak banget “gulai itiak lado mudo”. Abangnya kasih tahu, dari janjang seribu saya mesti melewati hutan sedikit, ketemu jalan untuk turun dan jalan kaki sampai ketemu jalan raya. Dan ternyata pencarian gulai itiak yang membuat saya berkesempatan untuk menikmati Ngarai Sianok dengan sebenarnya.

Janjang Saribu

Saya sampai di sini dengan kondisi capek sementara janjang saribu adalah tempat dengan ratusan anak tangga untuk bisa lihat puncaknya. Behubung saya hanyalah backpacker kurang stamina. Kelelahan kemarin di panorama ngalau indah belum hilang, ditambah naik ratusan janjang gini. Lambai tangan ke kamera. Meskipun saya lihat foto orang bagus banget di puncak janjang, saya udah ga kuat lagi melanjutkan.

Ngarai Sianok

Dari janjang, saya menyusuri hutan sedikit sampai ketemu jalan untuk turun. Ternyata di bawah hutan itu adalah ngarai sianok yang tadi saya lihat dari taman panorama. Allahu akbar. Waktu di taman panorama sebenarnya saya sempat mikir, apa bisa ke ngarai, adakah jalan ke situ. Ternyata ada. Dan ini yang tadi dibilang si kakak penginapan, ngapain ke ngarai, mending lihat dari panorama. Kamu salah kak, si Ludi lebih suka yang begini. Ga berencana ke sini, cuma pengen, eh sama Allah disampaikan. Alhamdulillah.

ngarai-sianok-dari-atas-jembatan

tangga di sebelah kiri itulah yang menghubungkan hutan dan jalan pinggir sungai

Saya menyusuri jalan setapak di pinggir sungai ngarai sianok. Jaraknya lumayan untuk sampai ke jalan raya, mungkin ada 1 km lebih. Tapi perjalanan sore itu sungguh menyenangkan, selama bukan tanjakan, haha. Cuma saya satu-satunya orang yang jalan kaki menyusuri ngarai sianok sore itu, benar-benar solo trip dan justru di sinilah momen berkesannya. Ngarai Sianok artinya lembah pendiam. Sesuai dengan namanya, sepanjang jalan ini memang suasananya sunyi dan tenang. Sesekali terdengar suara binatang dari dalam hutan.

menyusuri-ngarai-sianok

sunyi

Sayangnya, sampai di rumah makan yang jual gulai itiak ternyata sudah habis. Jadi gagal saya menutup perjalanan ini dengan makan enak. Sayapun balik ke penginapan dengan naik angkot. Dan begitu sampai di penginapan, seperti hari sebelumnya, kakak penginapan bertanya demi melihat saya terengah-engah dan kehabisan tenaga “hari ini ke mana saja?”, wah seru lah kak.

 

Ternyata tulisannya panjang banget. Perjalanan ke Batusangkar ditulis di post berikutnya ya. Insya Allah.

 

Add Comment