Pengalaman Wisata ke Sumatera Barat (part 1)

Awal bulan April kemarin saya safar ke Sumatera Barat. Sebenarnya niat utamanya untuk menghadiri pernikahan seorang teman dekat. Berhubung rasanya ko eman kalau jauh-jauh ke Padang cuma buat kondangan, sayapun sekalian pelesir ke beberapa tempat wisata di Sumbar. Dan catatan perjalanan ini  dibuat beberapa bulan setelahnya.

Ini adalah kunjungan pertama ke Sumbar, tidak punya sanak saudara di sana, tidak ada teman yang bisa (dan saya ga perkewuh) untuk diinapkan (selain si punya hajat), dan saya safar sendirian. Kalau kata orang yang diminta bantuan bikin itinerary, saya ini nekat. Rasanya ini karena pengalaman jadi Pengajar Muda, setahun mengajar, seumur hidup berani nekat.

Pengalaman pergi ke beberapa tempat asing, salah satu yang saya takutkan adalah calo. Bayangkan kamu tiba di satu daerah asing dengan bawa backpack, tidak kenal siapa-siapa, tidak tahu harus naik apa, cuma tahu mau ke mana, tampang kebingungan, jadilah kamu santapan empuk para calo. Dibujuk ke sana-ke mari, dengan biaya yang mungkin dilipat beberapa kali. Nah, apa yang melindungi seorang traveler dari calo selain Allah SWT? Informasi yang lengkap. Kamu bisa jalan dengan tegap dan penuh keyakinan, kebal dari bujuk dan tawaran kalau kamu sudah tahu pasti mau ke mana, naik apa, dari mana.

Makanya, saya ini kalau safar ke tempat asing berusaha membuat itinerary selengkap mungkin. Ada di dalamnya, tempat tujuan, sarana transportasi yang digunakan, naik dan turun dari mana, sampai jam berapa angkutannya beroperasi, berapa kira-kira ongkosnya, berapa lama dan jauhnya perjalanan. Saya juga mesti punya tiket PP, sudah booking penginapan, bahkan sudah merencanakan pakai baju apa setiap harinya.

Selain minta bantuan orang lokal, saya juga banyak cari tahu di google waktu bikin rencana. Sayangnya google tidak banyak memberikan info untuk backpacker yang solo trip dan ngeteng di tiap perjalanan. Tidak ada info kendaraan umum yang bisa dipakai, di mana persisnya naik dan turunnya, yang orang sanapun tidak tahu, karena mereka biasanya naik kendaraan pribadi. Makanya kemarin itu saya juga banyak bingung karena info minim, akhirnya banyak tanya setelah di TKP.

Penduduk setempat kalau ditanya akan kasih saran tidak jauh dari sewa mobil. Ugh. Saya pergi sendirian, budget pas-pasan, kalau sewa mobil bisa jatuh miskin. Jadi tulisan ini akan panjang dan agak detail, karena akan memuat info-info yang mungkin dibutuhkan oleh pelancong-sendirian-budget pas-pasan-tak ada pengalaman seperti saya.

Siap-siap aja close kalau bosan bacanya.

 

Baiklah, dimulai.

KOTA PADANG

Rencana awalnya adalah saya akan dijemput di bandara sama teman yang punya hajat ini. Tapi baru turun pesawat dan nyalain henpon saya terima kabar kalau gada yang bisa jemput. Wakwaw. Pilihannya naik DAMRI atau taksi dari bandara. Saya cek jaraknya, jauh banget, naik taksi bisa 200 ribuan. Yaudah saya naik DAMRI. Inilah ujian calo pertama, menurut google di luar bandara itu calonya banyak, TIPS PERTAMA, jangan injakkan kaki di luar bandara (atau stasiun, dll) sebelum tahu pasti mau naik apa. Sebaiknya tanya ke orang yang tidak berkepentingan/tidak dapat untung apa-apa atas angkutan apapun yang kamu pilih, karena mereka akan kasih info yang lebih objektif (biasanya saya tanya satpam).

Kata teman saya naik DAMRI, jadi saya menuju pangkalan DAMRI. Di jalan ditanya sama kenek-kenek berbagai angkutan, saya kasih tahu mau ke mana, mereka nunjukin angkutannya dan itu bukan DAMRI. Sayapun ga mau naik, mereka ngotot, saya ga kalah ngotot, saya tanya ke sopir DAMRI yang ada di situ.  Kata pak sopir, emang benar mestinya naik mobil mereka, baru saya percaya. Ternyata ini yang punya hajat yang ngaco, bilangnya DAMRI padahal bukan. Si kenek pun menunjukkan tampang “apa gue bilang?”. Tarifnya cuma 24.000, jauh lebih murah daripada taksi. Meskipun perlu lebih susah sedikit karena mesti tanya penumpang lain dan jadi diperhatikan banyak orang.

Di Kota Padang saya ga ke mana-mana, karena sepertinya gada yang menarik. Hehe. Peace. Saya cuma ke masjid Raya Sumatra Barat sendirian naik angkot dan trans Padang. Karena lagi-lagi orang yang mau nganterin ternyata ada kerjaan.

masjid-raya-sumatera-barat

Salah satu masjid terindah yang pernah saya datangi

 

Keesokan harinya, setelah selesai akad nikah teman saya ini, ada satu teman dari Jakarta datang, dan akhirnya saya punya teman ngebolang meskipun cuma sehari. Dari Padang kami menuju Bukittinggi naik travel. Perjalanan sekitar 3 jam, ongkos travel 20.000. Naik travel dari depan UNP (Universitas Negeri Padang), di situ banyak berjejer travel. Kalau kata orang setempat, amannya naik travel yang elf, jangan yang mobil semacam kijang. Travelnya ada sampai sekitar jam 5 (atau sebelum maghrib) jadi jangan kemalaman.

Sayangnya kami naik travel sudah menjelang maghrib. Jadi saat perjalanan hari sudah gelap, jadi ga banyak yang bisa dilihat di kanan kiri jalan.

BUKITTINGGI

Saya cuma tahu kami mau ke Bukittinggi, tapi tidak tahu harus di mana persisnya turunnya, karena Bukit kan luas dan jalannya panjang. Untung banget waktu sampai di tempat seharusnya kami turun, perasaan ga enak, jadi pas mobil mau jalan lagi, saya tanya ke orang dan akhirnya selamatlah kami dari keterusan jalan. Ternyata untuk ke Bukittinggi kotanya, turunlah di Jambu Air.

Di Bukittinggi saya sudah booking penginapan lewat aplikasi penyedia layanan beginian. Sebenarnya setelah saya survei, ada penginapan yang bisa lebih murah kalau datang langsung (ga lewat aplikasi), tapi saya pilih kemudahan, kenyamanan, dan perasaan aman #ihiy. Kalau udah booking duluan kan udah jelas juntrungannya mau ke mana, ga kelayapan dulu cari penginapan sambil bawa gembolan. Dari Jambu Air cukup naik angkot sekali ke penginapan.

Saya pilih penginapan di pusat kota, demi efisiensi. Tempat saya menginap cuma beberapa ratus meter dari Jam Gadang. Ya lumayan bisa jalan kaki ke jam gadang tiap saat, nongkrong di sana kalau mau, ala-ala anak gaul Bukittinggi. Heu. Jam Gadang ini semacam taman terbuka hijau di Jakarta gitu, kalau sore dan malam banyak yang datang, nongkrong, foto-foto. Kami sampai di Bukittinggi sekitar waktu isya, istirahat sebentar, sholat, terus keluar cari makan dan foto-foto di Jam Gadang.

 

PAYAKUMBUH

Waktu bikin itinerary Sumbar ini sebenarnya saya bingung mesti gimana urutan perjalanannya, karena saya gatau bagaimana lokasinya. Tadinya berencana akan menginap di kota yang didatangi. Tapi ternyata jarak kota-kota ini ga terlalu jauh. Akhirnya saya memutuskan untuk berpusat di Bukittinggi dan memulai semua perjalanan dari sana.

Hari kedua kami ke Payakumbuh, berangkat dari Bukittinggi. Sorenya teman saya pulang, dia akan jalan ke bandara dari payakumbuh. Jadi karena malam ini saya sendirian, saya pindah penginapan ke kamar yang single biar lebih murah (yang juga sudah dipesan via aplikasi). Tempat yang kami tuju adalah Lembah Harau, yang sebenarnya ga terlalu jelas gimana caranya naik angkutan umum ke sana. Hehe. Orang ditanya ga pada tahu. Ada yang bilang gada angkutan umum ke sana, ada yang bilang ada. Kami sebenarnya mau ke Padang Mangateh (Mengatas) juga, tapi katanya sudah ditutup untuk umum. Jadi pokoknya yang penting berangkat dululah. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Payakumbuh.

Menurut info google, ke Payakumbuh kami naik travel dari terminal. Sebelum berangat, kami sarapan dulu di sebuah warung tenda. Bapak yang nongkrong di warung (saudaranya yang jualan) tanya-tanya kami dari mana, mau ke mana. Si Bapak ini bantu kami, nyetopin angkot ke terminal, dan dia pesan ke sopir angkotnya untuk menurunkan kami di tempat travel menuju payakumbuh. Dia wanti-wanti banget ke sopirnya untuk memastikan kami naik travel yang tepat.

Lembah Harau

Menurut salah satu info, kalau mau ke Harau turun di restoran simpang raya, nanti nyambung lagi angkot ke simpang harau. Waktu di travel saya sibuk tanya restoran simpang raya, tapi orang gatau simpang raya yang mana, saya cari di google maps, ketemu banyak tapi gatau yang mana yang dimaksud. Akhirnya kami ikut aja itu travel sampai jauh, dan akhirnya abang travel sadar ada penumpang bingung yang ga turun-turun dari travelnya. Haha. Dia menawarkan kami sewa ojek di pangkalan travel dia, tapi kami gamau (saya juga lupa kenapa ga mau). Akhirnya, dia mengantarkan kami berdua ke simpang Harau pakai mobil travelnya itu.

Sampai di Simpang Harau, untuk masuk ke Lembah Harau ada 2 pilihan angkutan umum, ojek atau bentor (becak motor). Teman saya sebenarnya maunya naik ojek, tapi saya maunya naik bentor. If you know me so well, kamu mungkin tahu alasannya. Saya ini kalau lagi pelesir menikmatinya ga dengan foto-foto lalu narsis di sosmed. Saya menikmati perjalanan dengan pengalaman di tiap momennya. Saya suka mengubah perjalanan jadi pengalaman, makin unik dan beragam pengalamannya, saya makin suka. Lagian bentor si bapak udah jelek banget, kasihan, jangan-jangan gada uang buat beli motor baru, yaudah naik dia biar bagi-bagi rejeki.

air-terjun-lembah-harau

Di dalam lembah harau banyak air terjun macam ini

Bapak bentor mengantarkan kami ke 2 sisi simpang Lembah Harau, ke bagian air terjun di sebelah kanan dan air terjun (lagi) di sebelah kiri. Padahal di luar si bapak bilang, jangan lama-lama ya, tapi ternyata di dalam dia ga ngeburu-buru kami. Dia dengan sabar menunggu kami menunaikan hajat foto-foto di tiap spot. Bahkan kalau kami sudah selesai di satu tempat, dia akan merekomendasikan tempat lainnya. Tapi ternyata yang dia sarankan adalah air terjun berikutnya, yaudah kami pilih skip. Si bapak juga sabar mengantaran kami balik lagi ke tempat pertama karena tas saya ketinggalan. Keder yang sulit dihilangkan.

pemandangan-lembah-harau

Bahkan kamera pun tidak cukup menangkap keindahan lembah ini

Waktu kami menuju sisi kiri Harau, ke tempat yang bapak bentor rekomendasikan, saya lihat ada spot foto di jalan. Tapi si Bapak lanjut aja padahal justru itu adalah tempat dengan pemandangan terindah di sini, menurut saya. Pas balik, kami ga melewatkan untuk berhenti di spot Harau Valley tadi, baru jalan keluar. Tarif bentor mengantar masuk sampai keluar lagi, 60.000.

Padang Mangateh

Setelah keluar dari simpang Harau, kami bermaksud untuk ke Padang Mangateh. Ohiya, tadinya Mangateh sudah saya hapus dari list, tapi waktu di perjalanan menuju simpang Harau, abang travelnya bersikap seperti duta wisata lokal Payakumbuh banget, dia tanya kami sudah ke mana saja dan mau ke mana lagi. Dia kasih rekomendasi tempat wisata di Payakumbuh dan sekitarnya dengan antusias. Dan menurut dia, Padang Mangateh bisa dimasuki. Jadi akhirnya opsi Mangateh muncul lagi, tapi kalau ga ada kendaraan pribadi, kamu bakal gabisa ke mana-mana di Payakumbuh ini. Susah angkotnya. Akhirnya kami telepon si abang dan minta dia “kirim”ojek yang tadi dia promosikan.

Di Simpang Harau, saya mampir di warung sambil tanya ke penjualnya, apa nama simpang itu, bagaimana cara kami ke sana. Ternyata untuk sampai di sini dengan kendaraan umum, naiklah travel atau angkutan lain ke Kota Payakumbuh, turun di pasar penampungan. Dari sana naik angkot, turun di sari lamak.

Semenit, dua ment, kami menunggu, berubah jadi sepuluh dua puluh menit. Sudah sampai mana bang ojeknya? Kataya sudah di jalan. Kami curiga, ojeknya dia-dia juga. Eh bener. Wkwkwk. Berasa nonton Bukan Sekadar Wayang, semua yang peranin si sule-sule juga. Nah ini sopir travel jadi ojek. Jangan-jangan dia juga yang kasih makan sapi di Padang Mangateh. Wkwkwk.

padang-mangateh

sungguh narkoba buat mata

Si abang kali ini bawa anaknya, katanya anaknya mau ikut. Kurang aneh apa, ada supir travel jadi tukang ojek, tapi sambil momong anak. Ternyata, pilihan bawa anak ini sungguh brilian. Nanti kamu akan tahu. Hehe.

pemandangan-padang-mangateh

sayangnya sedikit banget sapi yang di luar waktu itu

Si abang membawa kami ke mangateh, tempatnya lumayan jauh dari simpang Harau, jalannya menanjak. Sampai di luar, benarlah tertulis, pengunjung tidak boleh masuk kecuali mendapatkan izin sebelumnya. Di spanduk tertulis alamat email tempat kita minta izin. Akhirnya, mohon maaf saya tidak bisa cerita detail, kami bisa masuk dan lihat-lihat sebentar di sana.

Sebenarnya kalau bisa kami masih pengen ke tempat wisata lainnya, tapi waktu di perjalanan turun kami mampir di masjid buat sholat dan tiba-tiba hujan deras. Ini yang saya suka dari si abang, dia tanya kami sudah solat belum. Teman saya lagi ga solat, dan saya kan safar, jadi bisa dijamak. Abangnya kelihatan bingung, ternyata karena dia mau solat dan dia minta kami berhenti dulu waktu melewati masjid. Suka. Jarang banget ketemu sopir yang minta izin solat gini.

Setelah tertunda cukup lama karena hujan, akhirnya teman saya ga punya waktu lagi buat melanjutkan pelesir. Dia langsung ke bandara, dan saya lanjut jalan bareng si abang dan anaknya. Destinasi kami berikutnya Ngalau Indah.

Ngalau Indah

Ngalau Indah terletak di pinggir jalan antara Kota Bukittinggi dan Payakumbuh. Jadi memilih Ngalau Indah sebagai tempat terakhir yang saya kunjungi di Payakumbuh cukup tepat, karena searah jalan pulang lagi ke Bukittinggi.

Ngalau artinya gua. Saya pikir waktu akan mendatangi temat ini cuma akan mendatangi gua alami. Ternyata, setelah dari gua, si abang (dan anak laki-lakinya yang ikut perjalanan kami) mengajak saya jalan ke panorama, katanya itu adalah tempat di mana kita bisa melihat keseluruhan Kota Payakumbuh. Abang ini niatnya baik, tapi sayangnya dia tidak mengenal saya dengan baik. Haha.

pintu-ngalau-indah

pintu ngalau

Abangnya gatau kalau saya backpacker kurang stamina. Saya ini gendut dan tidak berteman baik dengan tanjakan. Tadi di Padang Mangateh yang segitu indahnya saja saya menyerah tidak mau jalan ke tempat yang lebih tinggi lagi, lelah. Eh si abang ngajak saya jalan menanjak sekian ratus meter jauhnya, masuk ke dalam hutan.

hutan-sekitar-ngalau-indah

diajak lewat hutan-hutan gini sama si abang

Si abang tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberi saya kesempatan untuk menolak. Tadi sudah saya bilang, dia ini seperti duta pariwisata, jadi dia seolah membawa misi untuk menunjukkan pada saya tempat-tempat yang indah di kota ini. Sayapun ga enak menolak melihat antusiasmenya itu. Si abang jalan sama anaknya di depan, saya terengah-engah di belakang. Kadang kami lewat hutan, kadang lewat jalan setapak, yang karena habis hujan tadi, licin banget. Si abang terpeleset beberapa kali, untungnya saya pakai sepatu karet. Jalurnya emang agak curam. Berkali-kali anaknya marah ke ayahnya karena perjalanan lambat, ya ampun dek, jangan siksa kakak lebih dari ini. Kami sedikit-sedikit berhenti untuk membiarkan saya istirahat dan ambil napas.

hutan-ngalau-indah-payakumbuh

duta wisata payakumbuh tampak belakang

Dan akhirnya sampailah di puncak. Alhamdulillah. Saya sendiri gatau mana yang lebih membahagiakan waktu itu, melihat pemandangan kota payakumbuh dari atas atau berakhirnya perjalanan menanjak kami. Sepertinya yang kedua. Haha. Meskipun perjalanan baliknya adalah menurun, bukan berarti mudah, karena ya kan tetap kudu jalan kaki, dan, jalannya licin banget. Sepanjang naik dan turun itu kami tidak bertemu manusia lain, cuma saya, si abang, sama anaknya. Karena memang bukan musim liburan, waktunya sudah sore, dan habis hujan. Berasa hutan milik sendiri. Hehe.

 

pemandangan-payakumbuh-dari-puncak

 

Untungnya si abang bawa anak adalah kami jadi ga berduaan banget dan ga dicurigai sama orang. Konon, tempat yang saya kunjungi tadi suka dipakai pasangan nonhalal untuk berbuat asusila. Kemungkinan kami dapat kemudahan masuk ke Padang Mangateh juga karena bawa anak, penjaganya yakin lah kami ga bakalan “macam-macam”.

kota-payakumbuh-dari-ketinggian

Setelah selesai berkunjung ke Dari Ngalau Indah pun saya menunggu travel untuk balik ke penginapan di Bukittinggi. Abangnya mengantar sampai saya naik mobil. Atas jasa si abang mengantarkan saya hari itu, saya bayar 100.000. Dia bilang terserah, saya kasih segitu juga katanya kebanyakan. Cukuplah untuk jasa boncengin, ganti bensin, dan terpakai waktunya selama beberapa jam. Kalau tanpa bantuan dia, saya ga bakal bisa ke Padang Mangateh dan sampai di puncak panorama (namanya Puncak Marajo bukan?)

 

Sekian catatan Padang dan Payakumbuh (dan pas balik Bukittinggi baru ngeh kenapa ga ke kelok sembilan, hiks). Catatan ini bersambung, berikutnya adalah pengalaman wisata di dalam kota Bukittinggi, Danau Maninjau, dan Batusangkar. Silakan dibaca juga, semoga minat. Hehe. Ulasan tentang Padang Mangateh, Lembah Harau, dan Ngalau Indah akan dibuat di tulisan terpisah. Insya Allah. Kalau rajin. Haha.

Add Comment