Pelajaran Dari Bisnis Keagenan (2)

Seperti dibilang di tulisan sebelumnya tahun pertama jadi agen afrakids saya jualan sekadarnya aja. Belanja ke pusat juga sesekali, ga banyak pula.

Sampai suatu hari..

Di grup whatsapp agen ramai dibahas agen-agen omsetnya udah puluhan juta sebulan. Bahkan ada yang laba bersihnya di tanggal 20 udah 20 juta dan mereka adalah agen yang gabungnya bareng saya. Saya yang hidup aman sentosa ini tiba-tiba kaya dengar petasan beruntun. Loh, jadi keagenan ini bisnisnya menjanjikan ya? Loh, ini kaos ternyata segitu lakunya ya? Kemana aja Maliiih?

Dari situ akhirnya saya mikir, dalam kalimat “bisnis sambil dakwah” itu ga cuma ada kata dakwah, tapi juga kata bisnis di dalamnya. Kenapa ga dijalankan juga?

Saya lupa kronologisnya, tapi akhirnya saya mulai pengen serius jadi agen dan berbenah. Dapat cerita agen lain yang untuk mulai mesti punya stock, akhirnya beli stock juga. Loh, modal dari mana? Nah di sinilah pertolongan Allah.

Sebagaimana saya pernah jadi pegawai dengan gaji di bawah UMP, pernah kontrak kerja tapi bosnya mangkir, pernah lama jadi pengangguran, tapi saya pernah juga mencicipi kerja di multinasional company. Nah, kontrak temporary di multinasional company inilah yang menolong saya bisa punya modal. Itu gaji 4 bulan, cuma dipakai buat ongkos dan makan sehari-hari, sisanya buat beli stock afrakids. Itu aja yang diputar terus. Ingat banget saya akhirnya bisa belanja di pusat dengan diskon maksimal ya dari uang itu.

Teman lulusan bisnis dari melbourne university cuma sempat kasih tahu 1 prinsip bisnis dan itu yang saya ingat. Gw kasih tahu ya Ludi, “high risk high return”. Terjemahannya bukan dilarang kentut sembarangan ya, coba buka google translate. Dan saya meyakini prinsip itu sampai sekarang.

Silakan dibantah, tapi i do believe yang namanya bisnis itu perlu modal. Dan makin besar modal, makin besar kemungkinan untung. Ya kaya afrakids ini, ketika saya berani belanja ratusan pcs, itu risikonya besar, kl ga laku gimana, dipakai sendiri juga ga muat sampai ukuran XXL pun, hehe. Tapi punya stock banyak peluang sales juga lebih banyak. Masa punya 20 pcs mau jual 200 pcs?

Yang namanya modal meskipun harus ada, ga harus dari diri sendiri ko. Bisa pinjam, bisa cari investor. Dan modal ga melulu berupa uang. Tapi tetap harus ada dan prinsip high risk high return nya berlaku. Jadi kl ada MLM yang promosinya, bisnis tanpa risiko tapi hasil puluhan juta lho sis, ini minta diselepet banget. Haha.

Coba lihat tuh MLM nuskin, buat jadi eksekutif sebulan 1000 point. Dianjurkan nya fast track biar larinya kenceng. 1000 point itu 13 juta sis.. makanya saya ga jalanin bisnisnya, 13 juta mau ngepet dari mana?

Setelah itu saya gemar ikut seminar, pelatihan, atau talkshow soal bisnis. Daftar tips bisnis via whatsapp atau mailing list. Ingat banget, dari seminar lah saya dikasih tahu bahwa tiap produk punya segmennya, kita fokus jualan ke segmen kita aja. Dari talkshow saya dikasih tahu kl jualan itu kita harus yakin sama produk yang kita jual, harga jual segini tuh pantas. Dan dari komunitas-komunitas gitu saya semangat, banyak rekan sejawat yang menempuh jalan yang sama. Pokoknya kuatkan hati aja meskipun emak di rumah kl ditanya Pemi kerja apa jawabannya “nganggur”.

Tahu ga apa bakat tertinggi saya menurut talent maping? Di nomor 2, 3, 4 dari 34 bakat adalah intellection, input, learner (ini berurutan). Jadi ko bisa saya gabung afrakids karena tertarik belajar online marketing? ya karena memang bakat alamiah saya begitu. Menyukai semua hal yang berhubungan dengan belajar, mendapatkan informasi, dan berpikir. Ngeri ya? (ini beneran, saya pernah ikut tesnya, berbayar)

Tapi Rasulullah saw sudah bilang baginya apa yang diniatkan. Karena saya niatnya belajar, ya saya dapat lah itu proses mendapatkan informasi nya. Apa yang kurang? praktiknya! Gw belajar doang tapi ga dipraktikkan dong, wkwkwk.

Ini juga satu lesson learned penting, ngapain cari ilmu sana-sini kl ga dipraktikkan? Basi! Madingnya udah mau jadi! Kl Anda mau tahu hasil nyata dari belajar tapi ga praktik? lihat tuh si Ludi. *lalu ludi-nya ngumpet*

Makanya kl ada calon reseller yang bilang, “mba, tapi diajari cara jualannya ya”, sering banget saya jawabnya “tapi dipraktikkan ya”. Ya emang, soalnya manusia-jenis-ludi itu ternyata banyak, hobi ngumpulin tips dan trik tapi ga dijalankan. Hobi browsing resep tapi ga masak juga termasuk. Sampai sekarang pun saya masih berproses untuk menerapkan ilmu-ilmu yang didapat. Amal amal amal.

(ko ini tulisan udah panjang aja yang mau gw bahas masih banyak)

Intinya 3 itu sih faktor penting saya menjalankan keagenan afrakids ini.
1. Berani ambil risiko dan emang ada yang dirisikoin (alias modal)
2. Ilmu
3. Praktik (dan konsisten untuk terus praktik)

Loh terus gimana dengan pembukuan, cara marketing, membangun tim, dsb dsb? Itu semua ada di nomor 2. Tuntaskan ilmunya, belajar terus, lengkapi ilmu-ilmu yang harus dipunya untuk menjalankan bisnis. Jangan jadi kaum yang mau jualan tapi malas baca caption, karena yang males baca itu pembeli bukan pedagang. Jangan jadi orang yang mau tahu tapi ga usaha cari tahu, itu di google dan youtube, segala tutorial ada.

Selain doa. Ada satu lagi yang penting buat agen afrakids, jagalah hati.

Buat saya bergabung di sebuah keagenan yang jumlahnya besar gini, dengan jumlah omset beragam ada juga yang gap nya jauh banget, salah satu tantangan nya adalah hati sendiri.

Pernah ga situ pagi-pagi buka grup trus ada yang bilang “alhamdulillah closing sekian ratus pcs hari ini”, atau ada postingan foto packing atau belanjaan berkardus-kardus? Sementara situ sendiri lagi sepi jualan, cari reseller aja susah banget. Kira-kira gimana perasaan? sini, curhat sama Mamah Ludi.

Kata Mufti Menk, sebaiknya kita ini jangan “inviting jealousy”, ga usah dikit-dikit publish nikmat yang kita dapat, hati-hati penyakit ain. Tapi, untuk yang begini, kita ini tumpul ke luar tajam ke dalam lah. Kita didik diri sendiri untuk ga melakukan itu, tapi kita juga ga usah galak ke orang yang melakukannya. Prasangka baik ke orang lain, tapi curiga dengan hati diri sendiri. Itu orang lagi mancing ente biar semangat, bukan jadi hasad.

Belajar ga iri ke orang yang terlihat lebih beruntung dan penjualan segunung. Caranya udah Rasulullah saw ajarkan, doakan keberkahan tiap ada yang dapat nikmat. Barakallah fiik. Meskipun hati kecil iri, pokoknya paksain bilang barakallah. Karena kondisi seperti ini sangat bisa terjadi di mana saja, ga cuma di afrakids aja. Selama mata kita ga buta warna dan bisa melihat hijaunya rumput tetangga.

Yaudah itu aja. Itu aja udah panjang. Semoga ada manfaatnya.

Ludi,
yang masih perlu terus belajar

(tuh kan secara natural niatnya belajar)

PS: Gambar hanyalah ilustrasi, diambil dari pixabay.com

Add Comment