Merdeka di Titik Kecil Nusantara

Adodo Molu, 17 Agustus 2011

Tiang bendera telah tegak berdiri di tengah lapangan volly yang baru ditambal sana-sini. Tiang sebelumnya yang dirasa terlalu pendek, disambung dengan tiang radio tidak terpakai. Panggung untuk tribun kehormatanpun sudah dibuat dari kayu-kayu hutan hasil gotong royong warga. Kepala desa sudah memasang speaker TOA di pucuk bambu yang dipasang di atas rumahnya –mirip speaker mesjid- untuk mempermudah pengumuman. TOA ajaib yang berhasil membuat Pak Kades berbahasa Indonesia padahal biasanya pengumuman selalu dilakukan dengan berkeliling desa berteriak-teriak dalam bahasa daerah setempat. 

Adodo Molu riuh ramai hari-hari ini karena satu alasan, perayaan kemerdekaan. Sudah sejak 5 hari lalu kontingen perlombaan dari desa tetangga sudah berdatangan. Mereka menempuh jalan laut dari pulau sebelah dengan gelombang yang tidak tentu. Selama 5 hari menginap di Adodo Molu, mereka tidur berjubel di rumah-rumah warga dan ruang-ruang kelas SD.

Dari kejauhan terlihat pasukan paskibra berderap-derap. Paskibra kebanggaan yang dihidupkan dengan perjuangan. Pasukan ini terdiri dari siswa SMA satu-satunya di desa yang sebelumnya tak pernah tahu baris berbaris dan mengibarkan sangsaka. SMA tanpa guru resmi melainkan camat dan stafnya yang jadi pengajarnya. 

Kalian harus lihat seragam mereka. Bukan yang bersih dan rapi jali seperti yang biasa kita lihat. Tapi kumpulan baju pinjaman dari kenalan Ibu Camat, itupun seadanya. Yang tidak dapat ukuran pas, atau tidak dapat sama sekali, sibuk meminjam celana dan baju putih dari siapa saja yang dikenalnya. 

Sebagaimana seragam paskibra, acara ini bisa terwujud juga karena Ibu Camat. Karena didanai dari jerih payah dia dan timnya dalam mengumpulkan ikan asin, sia sia (ulat laut), dan hasil alam lainnya kemudian dijual ke kantor-kantor di Saumlaki, ibukota kabupaten. Sisanya sumbangan warga dan sekolah. Bu Camat juga yang membawa bahan makanan dari Saumlaki untuk dimasak di Adodo Molu. Berbeda dengan di kota yang jasa catering menjamur di mana-mana, di Adodo orang selalu kesulitan mendapatkan makanan, walaupun uangnya ada, makanan yang mau dibeli tidak ada.

Meskipun kecamatan terpencil dan sulitnya mencari dana, Pak Camat ingin kegiatannya semeriah mungkin, karena menurutnya simbol kemerdekaan adalah kemampuan berbuat yang terbaik secara mandiri. 

Saya menemukan bahwa 17 Agustus itu, baru akan bermakna saat kita bisa melakukan sesuatu yang selama ini berada di luar jangkauan kita. Saat kita bisa melompat keluar kotak dan melakukan langkah-langkah baru yang lebih tegap dan gagah. Di desa terpencil ini, saya merasakan kemerdekaan. Saya merasakan semangat Soekarno dan Hatta di mata dan gerak camat, stafnya, dan warga yang bergotong royong menghasilkan sebuah karya. 
***
Tanah Rata, 17 Agustus 2011

Saya masih ingat, beberapa hari lalu ini cuma mimpi. Mimpi melihat anak-anak berkumpul di lapangan kecil depan sekolah dan melakukan upacara saat hari kemerdekaan. Dalam mimpi itu juga hadir warga dusun Tanah Rata berduyun-duyun turut menyaksikan. Mimpi yang terlalu indah untuk direalisasikan saat itu. 

Orang bijak bilang, jika punya mimpi jangan lanjut tidur, tapi bangun dan wujudkanlah. Meskipun gagasan dari mimpi saya tadi ditolak mentah-mentah guru sekolah, saya tidak patah arang. Upacara bendera dianggap mustahil mengingat belum pernah terjadi di sekolah dan saat ini adalah Ramadhan ditambah tidak ada dana untuk membuat lomba-lomba. 

Sayapun memulainya dari mimpi sederhana, setidaknya tanggal 17 Agustus nanti anak-anak tahu sejarah kemerdekaan bangsa dan hafal lagu Indonesia Raya. Maka setiap hari saya membawa handphone yang diisi lagu Indonesia Raya. Sebelum mulai pelajaran, anak kelas 3-6 duduk-duduk di dhurung (pendopo), baca buku sambil mendengarkan lagu Indonesia Raya dan Indonesia Pusaka yang diputar berulang-ulang. Saya juga menyelipkan pengetahuan sejarah kemerdekaan Indonesia lewat acara Cerdas Cermat Dhurung (C2D), yang kerap saya gelar ketika guru lain tidak masuk. 

“Siapa yang mau jadi pemimpin upacara?”, semua angkat tangan menjawab, “Eshoooooon (terj: saya)”, ketika saya mulai gulirkan ide upacara hari kemerdekaan pada anak-anak. Semua antusias, semua mau ambil bagian. Latihan pun dimulai. 

Persiapan lain tak ketinggalan. Anak-anak sendiri yang mencari bambu di hutan untuk dijadikan tiang bendera, guru-guru tergugah dan turun tangan memasang umbul-umbul dan bendera keramat yang hanya dikeluarkan setahun sekali untuk dipajang persis tanggal 17.

Malang tak dapat diraih, mujur tidak dapat ditolak. Tanggal 16 Agustus, kepala sekolah memberi kabar bahwa tanggal 17 Agustus semua guru harus upacara di kecamatan. Dia minta upacara kami diubah menjadi penurunan bendera. Berita ini membuat anak-anak patah hati, sebagian minta upacara tetap berjalan sesuai rencana, sebagian lagi tidak mau jadi petugas. 

Akhirnya saya minta izin kepada kepala sekolah untuk upacara tanggal 18 Agustus. Bukan masalah kapan upacaranya, sebenarnya ini masalah belajar mencintai bangsa dan sejarah kita.

Saya kumpulkan dan bujuk para petugas pengibar bendera. Saya ajak mereka membuat sejarah di Dusun Tanah Rata layaknya Presiden Sukarno dahulu. Mereka diajak menjadi yang pertama mengibarkan bendera, membacakan teks proklamasi,  dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di Dusun Tanah Rata. 

Malam 18 Agustus, usai solat tarawih, saya minta di masjid diumumkan bahwa besok ada upacara bendera di depan SD dan semua warga harap datang. Usai sahur, anak-anak antusias mengingatkan saya event penting ini. Dan paginya saya berkeliling kampung mengajak warga sekali lagi. 

Pagi itu, upacara berhasil dilaksanakan. Anak-anak dari kelas 1 sampai 6 ramai mengikuti, guru-guru turut berpartisipasi, dan tidak ketinggalan warga juga berkumpul menghadiri. Hari itu anak-anak bukan hanya belajar, mereka juga sedang mengajari semua orang untuk lebih mencintai Indonesia. 

***

17 Agustus, selain hari bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia, tanpa sadar juga telah menjadi hari ulang tahun kedua bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Cerita di atas datang dari 2 pulau kecil di kepulauan nusantara. 

Kamu tinggal tunjuk 1 titik di peta Indonesia, ada perayaan untuk momen bebasnya Indonesia dari belenggu penjajahan ini. Perayaan ini tidak melulu sama ataupun serupa, tiap daerah punya sendiri caranya. Kita semua punya cara sendiri dalam mensyukuri kemerdekaan negeri ini. Tapi satu alasan yang kita mesti senada, kita melakukannya karena cinta pada Indonesia. 

(Cerita ini adalah milik 2 Pengajar Muda, Dedi Wijaya penempatan Maluku Tenggara Barat dan Putri Lestari penempatan Bawean. Saya mengedit dan membagikannya atas izin keduanya. Ditulis kembali atas permintaan Kelar PM untuk campaign iuran publik Indonesia Mengajar) 

***

Ayo dukung Pemi Ludi sebagai Pencerita Angkatan Terfavorit dengan melakukan Iuran Publik Indonesia Mengajar!

Caranya tambahkan angka 2 di nominal yang akan ditransfer sesuai dengan angkatan Pencerita Angkatan yang didukung.

Iuran Publik dapat ditransfer melalui Divisi Keuangan KELAR PM dengan no rekening berikut:

BCA 0701989898

a.n A ALBUKHARI M N NASUTION

Setelah melakukan transfer, silakan konfirmasi ke Nomor +62 812 373 655 70

Dan.. like postingan instagram nya di 

View this post on Instagram

MERDEKA DI TITIK KECIL NUSANTARA . Adodo Molu, 17 Agustus 2011 . Tiang bendera telah tegak berdiri di tengah lapangan volly yang baru ditambal sana-sini. Tiang sebelumnya yang dirasa terlalu pendek, disambung dengan tiang radio tidak terpakai. Panggung untuk tribun kehormatanpun sudah dibuat dari kayu-kayu hutan hasil gotong royong warga. Kepala desa sudah memasang speaker TOA di pucuk bambu yang dipasang di atas rumahnya –mirip speaker mesjid- untuk mempermudah pengumuman. TOA ajaib yang berhasil membuat Pak Kades berbahasa Indonesia padahal biasanya pengumuman selalu dilakukan dengan berkeliling desa berteriak-teriak dalam bahasa daerah setempat. . Baca cerita lengkapnya di https://www.facebook.com/KelarPM . Ayo dukung Pemi Ludi sebagai Pencerita Angkatan Terfavorit dengan melakukan Iuran Publik Indonesia Mengajar! . Caranya tambahkan angka 2 di nominal yang akan ditransfer sesuai dengan angkatan Pencerita Angkatan yang didukung. . Iuran Publik dapat ditransfer melalui Divisi Keuangan KELAR PM dengan no rekening berikut: BCA 0701989898 a.n A ALBUKHARI M N NASUTION . Setelah melakukan transfer, silakan konfirmasi ke Nomor +62 812 373 655 70 #PenceritaAngkatan #IuranPublik #IndonesiaMengajar #KelarPM

A post shared by Keluarga Besar Alumni PM (@kelarpm) on

Add Comment