Menonton Atraksi Video Mapping dan Air Mancur Menari di Monas

Mau cerita sedikit pengalaman wisata dalam kota Jakarta. Khususnya ke kota tua dan Monas. Mainstream ya? Hehe. Sabtu kemarin saya ke dua tempat itu demi melihat Kali Besar yang katanya sudah dinormalisasi dan nonton video mapping di Monas.

Biasanya saya ngajak jalan-jalan ibu dan keponakan, tapi sekarang rombongan saya bertambah, nenek-nenek dekat rumah. Wkwk. Karena lihat ibu saya suka diajak jalan-jalan, jadi ada yang mupeng pengen ikutan. Padahal saya udah bilang, jalan-jalan sama saya itu ya banyak aktivitas berjalannya, karena kami pakai transportasi publik. Ibu saya udah biasa diajak naik turun commuter line dan city tour buat melancong dalam kota. Tapi mereka mau ikut, yaudah, diajak pertama kali ke Monas malam naik ke puncaknya. Ternyata ga kapok meskipun capek, buktinya ini diajak lagi masih mau. Hehe.

Tempat pertama kota tua, berhubung akses ke sana enak, tinggal naik CL turun di stasiun terakhir. Sampai di sana, sholat dan makan di mushola museum BI, lanjut masuk museumnya.

Ini kl ga salah kali keempat saya masuk museum BI dan tiap ke sini selalu ada yang beda. Sekarang di bagian awal ada sejarah tentang krisis moneter tahun 98, sampai ada barang peninggalan kerusuhannya juga. Tapi yang disayangkan, kemarin ga ketemu komik sejarah tentang perjuangan menjadikan rupiah sebagai mata uang resmi. Sayang banget padahal informatif banget.

Setelah dari museum BI, kami ke Kali Besar. Jalan untuk ke kalinya ditutup, jadi cuma bisa foto di pinggir aja. Kalinya kelihatan bersih dan bagus emang, seumur-umur ke kota tua belum pernah ke sini sih.

Dari situ jalan balik ke arah museum Fatahillah. Lihat burung dara sebentar depan museum. Saya baru lihat burung-burung dara ini dikasih makan sama petugas, jadi pada turun, begitu makanan habis atau kl ada pengunjung yang menghampiri mereka akan terbang kabur. Burung-burung dara gini aja udah jadi atraksi menarik, buat saya sih.

Karena waktunya udah sore, kami lanjut perjalanan ke lapangan banteng (niatnya) pakai city tour. Di kawasan kota tua, halte city tour ada di depan BNI. Berhubung gada halte city tour di lapangan banteng, kami turun di Istiqlal. Setelah solat ashar di Istiqlal dan merasa ke lapangan banteng ga keburu, kami jadi istirahat di situ, makan dan tiduran sampai Maghrib. Setelah Maghrib baru lanjut lagi jalan ke Monas.

Sampai di Monas, saya langsung tanya ke petugas yang jaga pintu pagar, kl mau nonton video mapping dari arah mana. Bapaknya kasih tahu, dari arah barat, waktu itu kami masuk dari pintu utara jadi lumayan banget jalannya. Banyak orang yang gatau kl video mapping cuma dari satu sisi, jadi pas video mapping mulai baru orang berbondong-bondong jalan ke arah barat.

Video mapping diputar 2x, jam 19 dan 20. Atraksi video mapping bergantian dengan air mancur menari. Jadi setelah video mapping selesai jeda 5 menit air mancur akan mulai. Air mancurnya ada di sisi barat Monas juga, ga jauh di belakang tenda merah putih tempat penonton VIP. Waktu video mapping pertama, saya belum tahu tempat air mancurnya, tapi setelah video kedua yang jam 20, begitu selesai video langsung jalan ke air mancur biar dapat tempat di depan. Kl air mancur udah mulai lampu akan dimatikan jadi gelap suasananya, biar kelihatan warna-warni lampunya.

Yang menarik adalah pas masuk kawasan Monas petugas udah kasih tahu jaga anak-anak. Ternyata emang penting banget ini. Karena ini manusia ribuan, di tempat luas, malam, gelap, rawan banget anak atau teman hilang. Wkwk. Kl udah terpisah susah nyarinya. Makanya setelah video mapping selesai, MC berubah peran jadi informasi kehilangan.

Video mapping masih akan tayang lagi tanggal 1 dan 2 September jam 19 dan 20. Buat yang belum sempat nonton dan pengen, jangan sampai terlewat ya.

Add Comment