Mengapa Perlu Zero Waste atau Minim Sampah

“Membuang sampah tidak pada tempatnya itu zhalim. Tapi membuang banyak-banyak sampah meskipun sudah pada tempatnya juga zhalim.”

Kemana perginya sampah kita?

Pernah ga sih berfikir kemana perginya sampah kita? Buat orang perkotaan, 51% lebih menyerahkannya pada petugas sampah. Bayar iuran bulanan sampah ke RT. Habis perkara. Tapi oleh petugas sampah dibawa kemana, berakhir di mana, lalu menjadi apa, apakah pernah terpikirkan?

Pengelolaan sampah yang umum dilakukan di Indonesia baru sampai pada tahap penimbunan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Itu pun hanya 69 persen. “Jumlah sampah yang dikompos dan didaur ulang baru mencapai 7 persen, selebihnya sampah tersebut dibakar,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tuti H. Mintarsih.

69% dibawa ke TPA. Cuma 7% yang diolah. Sisanya mungkin ada di laut, sungai, tanah. Bayangkan itu terjadi setiap hari. Kl dihitung kira-kira satu orang menghasilkan 0.7 kg perhari. Bagaimana kl satu kota, setahun penuh. KLHK bilang DKI JAKARTA saja menghasilkan 70 ribu ton sampah perhari. Setiap hari 70 ribu ton, itu sama dengan 70.000.000 kg. Ngeri ga?

Jadi ga heran kalau TPA-TPA sudah kewalahan menampung sampah-sampah kita. Sampah dari TPA pun ada yang mencemari sungai di dekatnya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan alam untuk menguraikan sampah?

– Buah dan sayuran 1-2 bulan
– Filter rokok 10 tahun
– Kresek 10-20 tahun
– Botol plastik dan diapers 450 tahun
– Styrofoam tidak dapat terurai

Kebayang ga, kita pakai satu kresek hari ini, baru terurai 20 tahun lagi. Hisap rokok hari ini 3 batang, 10 tahun ke depan filternya baru terurai, itu baru rokok yang hari ini, belum rokok yang besok. Kita buang botol plastik hari ini, lalu (mungkin beberapa tahun kemudian) kita mati, beberapa tahun kemudian anak kita mati, beberapa tahun kemudian lagi cucu kita mati, itu botol plastik masih ada. Begitupun dengan popok sekali pakai.

Ah tapi botol plastik kan bisa didaur ulang. Iya, tapi berapa persen yang didaur ulang? berapa ongkos yang dikeluarkan untuk daur ulangnya? Barang yang sudah didaur ulang pun kualitasnya pasti menurun.

Ketika perbandingan plastik dan ikan di laut sekarang 1:5 dan diprediksi tahun 2050 akan menjadi 1:1 artinya ikan dan plastik di laut sama banyaknya. Sekarang saja 50% kura-kura pernah makan plastik. Di darat, TPA sudah kewalahan menampung sampah. Sayangnya kita ga punya planet B. Cuma ada satu satunya planet yang bisa kita diami, ya bumi ini. Maka, mau tidak mau kitalah yang mesti menyelamatkannya.

Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi?

Ubah gaya hidup menjadi minim sampah atau zero waste living. Prinsip utamanya adalah mencegah terjadinya sampah dan mengirim sesedikit mungkin ke TPA (menurut mbak DKWardhani).

Ah, mana bisa zero waste, ga mungkin sampai zero, Ludi!

Sulit memang. Mustahil ga. Saya pribadi urusan zerowaste ini pakai kaidah “jika tidak bisa dikerjakan semuanya, jangan ditinggalkan seluruhnya”. Hehe. Kerjakan mulai dari yang kita bisa, mulai dari yang kecil, mulai segera.

Kalau dulu pakai prinsip 3R, Reduce, Reuse, Recycle. Sekarang mengadopsi Bea Johnson pakai 5R, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot. Atau kl pakai bahasa ibu bangsa, haha, ini versi Indonesia nya dari mbak DKWardhani juga jadi 3-ah; cegah, pilah, olah.

Utamanya dari cegah dulu. Cegah sampah atau sisa konsumsi sebisa mungkin, biar kerjaan pilah dan olahnya lebih mudah. Cegah menggunakan barang sekali pakai. Usahakan pemanfaatan satu barang itu lebih panjang, gunakan sampai rusak, atau kasih “rumah baru”.

Buat sisa organik atau sampah dapur, ga mungkin dihindari, makanya perlakuannya adalah olah. Gimana mengolah sampah? Berhubung tulisan ini udah kepanjangan, biasanya pada lelah baca, maka akan disambung di tulisan lain. Insya Allah.

Add Comment