Memandirikan Anak Saat Baligh

Saya mau share kajian Madrasatun Nisa (MN) kemarin, fokus di hal yang bikin terkesan aja yaitu soal memandirikan anak.

Sebenarnya tema pertemuan MN yang kemarin adalah Hamil dan Menyusui dalam Islam. Buat yang masih single rasanya judul ini tidak menarik. Tapi tetap saja hadir buat cari ilmu. Ternyata, dapat insight lain yang berkesan.

Dari tema hamil dan menyusui, Ustadzah Erika Suryani membahas soal hadhanah. Hadhanah adalah suatu kegiatan memelihara,
mengasuh, mendidik anak yang belum
mumayyiz, hingga ia dewasa (baligh) atau
mampu berdiri sendiri. Orang tua berkewajiban untuk melaksanakan
pemeliharaan terhadap anaknya.

Sependek yang saya tahu dari beberapa ustadz dan ustadzah, dalam Islam kewajiban memberikan nafkah kepada anak laki-laki itu hanya sampai baligh. Kalau sudah lewat baligh, pemberian nafkah orang tua ke anak laki-laki itu tergolong sedekah (tidak wajib).

Saya pernah datang ke ceramah Ustadz Fauzil Adhim, beliau bercerita. Dulu waktu beliau belum baligh, sudah ditekankan terus oleh orang tuanya. Bahwa kewajiban bapaknya ngasih nafkah cuma sampai dia baligh. Lebih dari itu, ibarat bapaknya lagi masukin uang infak ke kotak amal aja. Karena itulah, ketika sudah baligh, menerima uang dari orang tua itu rasanya sama derajatnya dengan kencleng yang dimasukkan recehan.

Berapa usia baligh anak laki-laki sekarang? Beragam yah. Tapi katanya minimal 13 tahun. Nah kebayang gak anak Indonesia umur 13 tahun ga dikasih nafkah lagi sama orangtuanya, bisa apa dia?

Di Islam itu ada yang namanya aqil baligh. Tapi permasalahannya sekarang adalah anak-anak cuma baligh, tapi ga Aqil. Masuk masa baligh doang tapi akalnya belum. Orang tuanya tidak menyiapkan masa tsb. Padahal kalau di Islam, masuk baligh itu anak sudah kena beban syari’at. Tidak ada usia remaja. Adanya anak-anak dan dewasa. Kewajiban setelah baligh, sama dengan orang dewasa.

Karena ketika baligh (seharusnya) sudah matang, jangan heran jika di usia 17an sudah bisa jadi panglima perang. Usamah bin Zaid menjadi sahabat Rasulullah Saw yang paling muda dalam memimpin pasukan. Yang dipimpinnya orang yang sudah lebih tua. Usamah bin Zaid, 17 tahun di masa itu, anaknya udah 4, kata Ustadzah Erika (cmiiw). Sudah bukan anak-anak lagi.

Di sini umur 17 tahun boro-boro memimpin pasukan. Paling bisa tawuran. Usia 17 tahun masih bolos sekolah dan main sampai malam pakai motor dibelikan orang tua. Ketika ada orang nikah umur 17 tahun pun, malah di-bully habis-habisan sama netizen 62. Karena 17 tahun umumnya masih anak-anak.

Kalau versi Fitrah Based Education Ustadz Harry Santosa, standarnya itu usia 15 tahun. 0-15 tahun adalah masa orang tua mendidik dan memandirikan anak. Jadi setelah usia 15 tahun anak sudah bisa mandiri dan berkembang sesuai fitrahnya.

Masalahnya sekarang, kalau Windi sering nulis, anak laki-laki ga diajari, ga ditekankan sejak dini, kalau dia itu nanti jadi qawwam. Pemimpin. Makanya sekarang banyak laki-laki ga tahu kewajibannya. Ga tahu fungsinya sebagai qawwam buat keluarganya.

Makanya banyak curhat suami pelit. Suami menganggap istri tidak bekerja dan mengandalkan nafkah suami itu namanya morotin. Atau ada teman cerita saking canggihnya istri cari uang, suami malah jadi ga kerja dan bergantung ke istrinya. Dunia terbalik. Padahal dalam Islam perempuan ga ada kewajiban cari nafkah.

Nah, karena ini terlalu melebar, balik lagi ke MN kemarin..

Ustadzah Erika juga menekankan gitu, ga wajib menafkahi anak laki-laki setelah baligh. Dan.. yang bikin saya merinding adalah.. ternyata ustadzahnya ga OMDO. Beliau cerita, anak laki-laki pertamanya baligh di usia 13 tahun. Saat itu kelas 1 SMP akhir.

Karena sudah tahu kalau setelah baligh mesti bisa mandiri, suatu malam sebelum subuh, ustadzah dengar ada suara dari dapur. Pas dilihat ternyata anak laki-lakinya ini sedang membuat mie goreng buat dijual ke sekolah.

Katanya sejak saat itu, sejak baligh, usia SMP kelas 1, sampai sekarang, orang tuanya ga perlu menafkahi anak itu lagi. Dia mandiri, cari uang sendiri. Kuliah juga biaya sendiri. 2 tahun lalu nikah juga orang tua sama sekali ga biayai.

Coba bandingkan sama kasus bapak-bapak di Aceh tertangkap jadi kurir narkoba. Katanya buat biaya pernikahan anak laki-lakinya. Ada juga tetangga sini pinjam uang katanya buat beli cincin kawin anaknya laki.

Menurut Ustadzah Erika, kalau ada anak yang tidak mandiri, dsb, tidak terlepas dari kesalahan orang tua juga dalam mendidik. Pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan sekolah atau pesantren. Orang tua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak pada institusi pendidikan. Ustadzah juga punya contohnya untuk urusan kegagalan ini. Maaf tidak saya tulis di sini.

Kadang saya mikir, memandirikan anak di usia 15 tahun itu ko kayanya hampir mustahil. Apa iya ada anak usia segitu sudah bisa qadirun ‘alal kasbi. Makanya ketika dapat true story seperti kemarin itu saya sampai merinding takjub.

Ini memang kondisi ideal. Yang mungkin sulit bagi sebagian orang memandirikan anak saat usia baligh. Tapi kalau kata Ustadzah Herlini Amran (di kajian dengan tema berbeda sih), meskipun belum bisa dipraktikkan secara penuh, yang penting kita tahu dulu bagaimana kondisi idealnya. Agar kita punya patokan harus bagaimana. Semoga Allah mampukan dan mudahkan. Allahu’alam.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.