Kanker, Tentang Yana Zein dan Kita

kanker

“Jadi kl dihitung, obat saya ini satu butirnya 800 ribu ya suster?”, tanya suara di seberang telepon sana dengan gundahnya. Saya pun mengiyakan dengan hati yang sangat berat. Ini adalah percakapan saya dengan seorang pasien 2 tahun lalu. Beliau meninggal beberapa bulan setelahnya.

Dua tahun lalu saya dikasih kesempatan oleh Allah mencicipi posisi sebagai Nurse Patient Support di sebuah perusahaan farmasi. Kerjaan saya adalah men-support pasien yang pakai obat kanker (targeted therapy) dari perusahaan kami. Pasien yang di Jakarta kadang saya kunjungi, pasien luar daerah difollow up by phone seperti pasien ini.

Ini obat canggih, kerjanya tertarget hanya ke sel kanker. Tapi harganya horror banget. Untuk pemakaian ideal sebulan butuh 2 box seharga sekitar 48 juta. Dan tidak ditanggung BPJS. Dulu saya pernah bilang ke atasan, masalah bulan-bulan awal pasien adalah tidak kuat dengan efek sampingnya. Masalah di bulan berikutnya, tidak kuat untuk belinya.

Dari perusahaan ada program beli 1 gratis 1 untuk pasien tidak mampu. Pernah ada pasien diikutkan program, padahal saya lihat orangnya mampu secara finansial. Teman saya bilang “orang kanker yang tadinya kaya lama-lama jadi miskin juga Di”.

Kalau ngomongin kanker, saya selalu teringat masa-masa singkat kerjaan ini. 4 bulan support pasien-pasien kanker stadium lanjut. Dapat telepon laporan pasien meninggal satu persatu sudah biasa. Sampai teman kantor bilang, “mba Ludi kl lagi telepon pasti bilang turut berdukacita.”

Ngomongin kanker bisa jadi ngomongin banyak permasalahan. Dari keumuman terlambatnya dideteksi sehingga pasien sudah terlanjur berada di kondisi yang sulit treatmentnya saja bisa banyak dibahas. Kalau sudah stadium lanjut, pengobatan jadi lebih rumit, angka harapan hidup kecil. Proses pengobatan nya saja makan waktu. Kl pakai jaminan pemerintah, untuk dapat treatment, pasien bisa antre lama untuk dapat giliran. Kata teman di Dharmais, untuk radioterapi bisa menunggu 2 bulan.

Belum lagi biaya pengobatan yang mahal. Contoh obat dari tempat saya kerja dulu itu. Bahkan meskipun ditanggung BPJS, biaya transportasi bolak-balik kan ditanggung pribadi, biaya hidup sehari-hari juga, karena mungkin udah ga produktif lagi. Contoh Yana Zein, meskipun mantan artis, anaknya sampai putus sekolah. Padahal menurut saya kl Syahrini mau nyumbang 1 tas Hermes kulit buayanya cukup tuh buat nyekolahin sampai lulus SMA #eh.

Belum lagi rasa sakit yang dirasa pasien nya sendiri. Pasien sebelah saya waktu dirawat kemarin sering banget nangis karena kesakitan. Ya Allah, perih banget dengarnya. Belum lagi beban keluarga yang merawat . Ah.. banyak kl mau diuraikan mah.

Trus apa sebenarnya yang mau saya sampaikan?

Cuma mau mengajak diri sendiri dan handai taulan untuk bersyukur atas nikmat sehat. Syukur itu ga sekadar bilang alhamdulillah. Tapi syukur juga dengan menjaganya dengan sebaiknya.

Mulai gaya hidup sehat dari sekarang (ini ngomong ke diri sendiri sebenarnya, hiks). Berhenti merokok buat perokok, karena merokok membunuh diri sendiri dan orang sekitar. Gaya hidup aktif, karena katanya menurut WHO kurang gerak sama bahayanya dengan rokok (eh perokok jangan merasa dibela yah). Makan makanan sehat. Dan yang paling penting, berdoa. Karena sakit juga kehendak Allah.

Buat yang merasa hidup sulit. Buat yang lagi iri toko sebelah lebih ramai. Buat yang bingung utang tak kunjung lunas. Buat yang galau karena jodoh belum datang. Ingat ada 1 rezeki yang masih Allah karuniakan, sehat. Itu kl mau dihitung harganya mungkin ga bisa disetarakan dengan jualan afrakids meskipun ribuan pieces banyaknya.

Semoga sehat selalu. Semoga senantiasa terhindar dari kanker untuk kita dan keluarga.

 

Ludi,
yang pernah dikasih tahu dokter ada kemungkinan kanker, tapi alhamdulillah hasil biopsinya bukan

~ditulis dalam rangka World Cancer Day 4 Februari

Add Comment