Hakuna Matata

hakuna-matata

Hakuna Matata | picsource: wallpapercave.com

 

 

2 hari sebelum meninggalkan Aceh, saya berencana datang untuk pamitan ke sekolah. Sekolah yang sudah saya tinggalkan hampir 2 bulan karena kondisi saat itu memaksa kami dievakuasi ke kota. Pagi itu, di tengah ke-rempong-an menyiapkan segala sesuatunya, kepala sekolah saya menelepon. Nada bicaranya marah, dia tanya saya lagi ngapain aja ko jam segitu belum datang? Kepala sekolah yang selalu baik hati itu marah ke saya untuk pertama kalinya.

Saat itu saya masih menunggu video selesai dibuat dan foto selesai dicetak. Kepala sekolah kembali menegur, saya tidak ingat redaksinya tapi kira-kira begini “jangan sibuk sama urusan sendiri, ini orang tua sudah menunggu dari pagi, katanya mau datang, ditunggu-tunggu ko ga datang-datang”

Jger! Saya kaget. Kenapa bisa ada orang tua nungguin saya? Rencananya saya cuma mau memutar video berisi kompilasi foto ke anak-anak, sambil bawa kenang-kenangan foto guru-guru (dan apa lagi ya udah lupa). Saya sama sekali tidak tahu kalau di desa ada orang tua menunggu kedatangan saya.

Seketika panikpun datang. Perasaan bersalah menghantui. Terbayang sudah tampang kesal para tokoh masyarakat, komite, dan orang tua murid yang sudah menunggu dari pagi. Juga kemarahan pertama seorang kepsek baik hati.

Sebenarnya saat itu bisa saja saya berbalik nyolot ke bapak kepsek, ngapain bapak undang-undang para tokoh tanpa sepengetahuan saya? Salah sendiri saya ga dikasih tahu dari awal. Ini sama saja menyabotase acara yang sudah saya susun. Untung saya mah anak baik budi, tidak suka melawan apalagi sakit gigi.

Sayapun panik, sakit perut, ketakutan. Takut menghadapi kepsek, takut menghadapi para orang tua. Di kota saya gelisah, pikiran kusut tidak karuan. Teman saya, yang saat itu bantu bikinin video bilang “pasrah aja Ludi”. Ya, dia mengajarkan satu hal sederhana, tidak usah cemas, tidak usah takut, pasrah saja dengan ketentuan yang Allah tetapkan.

Setelah semua persiapan selesai, hari sudah cukup siang, saya memacu motor di jalan raya Medan-Banda sekitar 70 km jauhnya. Dengan membawa infocus pinjaman, pigura besar, dan ketakutan yang berusaha dilawan. Rempong karena banyaknya bawaan tidak dirasa, yang penting bisa sampai desa dalam waktu sesingkatnya.

Sepanjang jalan berusaha menata hati. Untuk tidak mencemaskan masa depan, tapi pasrah dengan yang ALLAH sudah tentukan. Meskipun ngebut mah tetep. Secepat mungkin harus bisa sampai desa. Motor bebekpun dipaksa jadi kuda. Hari itu saya belajar pasrah, apapun yang akan terjadi di sekolah maka terjadilah. Kalaupun dimarahi kepsek ya terima. Mengecewakan para orang tua ya terima.

Ternyata, semua ketakutan tidak terjadi. Pak kepsek masih menyambut saya dengan senyum berseri. Di sekolah sudah disiapkan acara-acara perpisahan. Dengan para tokoh dan komite sebagai tamu undangan. Semua berakhir baik.

Sejak saat itu, kalau menghadapi kondisi yang sangat tidak diinginkan dalam hidup. Tidak lagi bisa menghindar, tidak pula mengubah, saya belajar pasrah. Tawakal. Serahkan pada Yang Mahamenentukan. Karena kecemasan hanya membuat pikiran semakin runyam. La takhaf wa la tahzan. Meskipun, sungguh, pasrah tidaklah pernah mudah. Sebagai manusia, pasti punya kecemasan dan ketakutan.

Anehnya, setelah kepasrahan saya sering menemukan ending-ending yang menyenangkan.

No worries. Tawakal aja. Hakuna matata.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.