Hadapi, Jangan Lari

fight or flight

Sebenarnya saya pernah menulis tentang tema ini beberapa tahun lalu. Dulu ditulis salah satunya dari lesson learned kuliah profesi yang hampir ga lulus karena telat mengumpulkan laporan. Kalau ada yang penasaran bagaimana tulisannya, beli aja buku saya, kl emang bakal terbit. Haha.

Beberapa hari ini saya kembali sadar bahwa ternyata saya masih sering memilih flight (kabur) daripada fight. Memang sebenarnya saya ini pengecut betul. Eh, tapi ini rahasia lho ya (rahasia yang dipublikasikan dengan setting for public. Hehe).

Sejujurnya, kalau sedang ketemu hal tidak menyenangkan, masalah berat, orang nyebelin, seringnya otak saya cari cara untuk flight. Misal, akan menghadapi tes yang saya kurang persiapan, maka saya berharap tesnya diundur. Ketika disuruh memilih antara 2 yang 2-2nya saya tidak suka, saya pergi jauh ke kota lain. Ketika ada orang yang melakukan perbuatan yang terlalu menyakitkan, saya memilih untuk memutus hubungan dengan orang tsb dan menghindarinya. Ketika ada tugas yang berat, saya berharap sakit, hujan deras atau ada uzur apapun sehingga bisa izin. Bahkan pernah suatu kali, saya salah kirim paket, reseller marah luar biasa, saking takutnya, teleponnya ga saya angkat.

Ketika situasi terasa begitu sulit, saya suka berdoa dalam hati, ya Allah, semoga ini cuma mimpi. Tapi kadang benar, kadang salah (iya, hampir di semua mimpi buruk, saya berdoa dalam mimpi itu kl itu hanyalah mimpi, hehe, makanya pas terbangun rasanya bahagia). Kadang memang itu kenyataan yang harus dihadapi.

Padahal, respon flight tidak pernah menyelesaikan masalah. Satu flight akan mengantarkan kita ke flight lainnya. Seperti satu kebohongan yang membuat orang bohong lagi untuk menutupinya.

Setelah saya izin dari satu pertemuan yang isinya tes, di pertemuan berikutnya ternyata saya kena tes juga. Ketika saya ga angkat telepon karena takut, akhirnya saya tetap angkat karena harus menunaikan hak orang lain.

Kalau kamu pikir dengan flight semua bisa selesai, itu salah. Flight cuma menunda, tidak menyelesaikan. Termasuk ketika seseorang berusaha flight dengan menengok proyek kereta cepat.

Hidup emang kadang terasa ngeri. Apalagi buat saya yang pengecut gini. Berhadapan sama dokter yang mengomel panjang lewat whatsapp karena (menurut dia) saya salah bikin laporan saja udah bikin keringetan. Apalagi ini, menghadapi 2.5 juta orang dari seluruh Indonesia untuk menuntut keadilan. Ini 2.5 juta manusia lho, bukan biji wijen. Khusus datang untuk menyampaikan aspirasi.

Ngeri boleh ngeri. Tapi masalah harus dihadapi. Menundanya bisa jadi bikin masalah baru atau memperkeruhnya. Kemarin saya belajar, hari inipun belajar. Kemarin saya lihat flight yang dampaknya melukai. Sedangkan hari ini akhirnya saya berhasil “fight” setelah sebelumnya flight berkali-kali.

Oiya, satu doa favorit kalau saya lagi merasa berat banget menghadapi suatu urusan, mengikuti doa Nabi Musa dalam menghadapi fir’aun (meskipun masalah saya gada seujung bulu hidungnya fir’aun) “rabbisysyrahlii shadrii, wa yassirlii amri”

*fight or flight adalah respon fisiologis tubuh ketika menghadapi situasi bahaya atau serangan untuk bertahan. Saya belajar di kelas faal sistem persarafan pada jaman dahulu kala
*maksud fight saya di atas bukan berantem ya, tapi menghadapi atau berusaha mengatasi. Tolong jangan dipelintir, kaya media-media jaman sekarang. Eh.

5 November 2016

Add Comment