Fiqh Itlafaat dan Pasal Ayam Kontroversial di RKUHP

Waktu ada teman nge-share infografis pasal kontroversial RKUHP di Facebook, poin pertama tertulis “ayam peliharaan masuk dan makan di kebun orang denda 10 juta”. Saya komen begini di postingan itu “Tapi yang nomor 1 itu bagus. Punya ayam jangan sampai masuk kebon orang. Bukannya di Islam juga ga boleh.”

pasal-kontroversial-kuhp-ayam
primadona akhir-akhir ini karena RKUHP

Serius. Saat itu, untuk kesan pertama, saya tidak melihat di mana masalahnya. Karena setahu saya hewan peliharaan yang makan dari milik orang lain tanpa izin atau keridhaan pemilik juga tidak diperbolehkan dalam Islam.

Saya teringat kisah dalam surah Yusuf. Dulu, jaman saya masih rajin ngaji, hehe, pernah belajar bahasa Arab lewat baca kitab Shafwatut Tafasir khusus surah Yusuf. Dalam tafsir surah yang disebut Ahsanul Qashash ini, disebutkan bahwa tunggangan anak-anak Nabi Yakub as ketika memasuki Mesir –waktu mau minta bantuan makanan saat masa paceklik– mulut-mulut tunggangannya diberi penutup. Tujuannya agar hewan tunggangan ini tidak memakan daun atau rumput milik orang lain. Sampai segitunya lho. Saya aja takjub pas tahu, karena saya pikir anak-anak Nabi Yakub as jahat, tapi ternyata untuk urusan hewan milik mereka ga makan makanan syubhat aja diperhatikan.

Dalam hadis pun disebutkan
“Barang siapa yang melakukan perkara syubhat (tidak jelas halal haramnya), maka dia telah melakukan perkara haram. Seperti penggembala yang menggembala hewan ternak di dekat pagar (tanah milik orang lain), maka dia hampir masuk ke dalamnya. Ingatlah, bahwa setiap milik ada pagarnya. Dan pagar Allah adalah hal-hal yang diharamkan olehNya (HR Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir).”

Dalam fiqh dibahas bahwa hewan peliharaan kita memang mesti dijaga jangan sampai merusak harta orang lain. Tidak cuma hewan gembalaan, tapi peliharaan lain yang berpotensi merusak seperti kucing, atau ayampun termasuk.

Makanya saya bingung, kenapa jadi heboh banget dengan hukuman untuk pemilik ayam yang merusak kebun orang lain?

Ya kan dendanya ga perlu sampai 10 juta juga kali, begitu kata seorang netizen.

Penjelasan dari staf ahli DPR yang 4 tahun ini ikut membahas tentang RUU KUHP ini, sebenarnya soal pasal ayam ini sudah ada di KUHP lama. Pasalnya tidak dicabut karena masih relevan di jaman sekarang. Di Sumatera, kasus unggas masuk ke sawah tetangga memicu perkelahian yang berujung pembacokan.

Saya saja yang tidak berprofesi sebagai petani, pernah abis menyemai pakcoy eh abis dimakan ayam tetangga. Sungguh kukesal dibuatnya.

Kalau saya baca bedah pasal kontroversial RUU KUHP yang ditulis Erlanda Juliansyah Putra, baik KUHP yang lama maupun KUHP yang baru sesungguhnya sama-sama bertujuan melindungi para petani dari gagal panen yang disebabkan oleh unggas/ternak orang lain. Di samping itu penekanan pasal ini seharusnya dapat dimaknai sebagai upaya preventif agar orang menjaga unggas atau ternaknya tidak dilepas sembarangan dan merugikan orang lain. Kita tidak perlu terlalu khawatir sebab pasal ini tidak akan mengkriminalisasi setiap orang karena dalam menyelesaikan persoalan ini tentu hakim bisa menggunakan Judicial pardon (pemaafan hakim) sebagai alasan pemaaf.

Saya jadi teringat lagi, dulu jaman masih mahasiswa pernah ikutan training legal drafting, kata pembicaranya juga gitu. Hukum yang baik itu yang bisa mencegah orang untuk melakukannya. Tuh di Singapura, banyak denda macam-macam berhasil mencegah warganya buat meludah, merokok, dan buang sampah sembarangan. Di sini denda buat pemilik ayam yang merusak kebun orang aja udah heboh netizen 62. Gimana dilarang meludah sembarangan ente.

Atau gini aja deh. Kalau memang ga suka hukum buatan manusia, masih pengen meledek, mengatai, menertawai pasal 278-289 RKUHP, minimal ikuti aja hukum yang sudah dibuat Yang Mahakuasa. Allah SWT mengharamkan kita berbuat zalim terhadap harta orang lain serta merampas hartanya, dan mensyariatkan kita untuk menanggung barang mereka yang binasa tanpa alasan yang benar meskipun tidak sengaja.

Mau punya hewan peliharaan emang harus komitmen. Meskipun itu kucing. Meskipun itu ayam.

(مَسْأَلَة أُخْرَى) كَذَلِك إِذا كَانَ لشخص قطة تخطف الطُّيُور وتقلب الْقُدُور فأتلفت شَيْئا ضمنه صَاحبهَا على الصَّحِيح سَوَاء أتلفت لَيْلًا أَو نَهَارا لِأَن مثل هَذِه الْهِرَّة يَنْبَغِي أَن ترْبط ويكف شَرها وَكَذَا الحكم فِي كل حَيَوَان يولع بِالتَّعَدِّي

كفاية الأخيار في حل غاية …
– ج: ١ – ص: ٤٩١ –
“Masalah lain: Seperti itu juga apabila ada orang yang mempunyai kucing yang suka menerkam burung atau menumpahkan kendil lalu ia merusak sesuatu, maka pemiliknya harus mengganti rugi, menurut pendapat yang sahih. Baik perusakan itu siang atau malam sebab kucing yang seperti ini seharusnya diikat dan dijaga tingkah buruknya. Demikian juga hukum dalam hal seluruh hewan yang kecenderungannya merusak”. (Kifayatul Akhyar)

Allahu’alam.
Ya Allah, bantulah kami agar terhindar dari mengambil dan merusak harta orang lain.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.