Dosa Jariyah YouTubers

Ada video music yang Salman sering tonton, bunyi lagunya gini
“Kami kids zaman now,
Kami kids zaman now,
Cita-cita kami suatu hari
Punya channel YouTube sendiri”

Lagu itu cukup mewakili anak-anak zaman sekarang. Kayanya hampir semua anak pengen jadi YouTubers dengan subscribers banyak dan banyak uang. Tidak terkecuali keponakan saya. Bahkan dari beberapa tahun lalu saja, waktu Afaf masih SD, katanya banyak teman SD nya yang punya channel YouTube.

YouTubers dijadikan sebagai cita-cita karena uang dan popularitasnya. Akibatnya ngeri juga konten YouTube sekarang. Kemarin iseng buka salah satu-dua YouTubers Indonesia, konten ditonton jutaan orang tapi isinya, maaf, menjijikkan. Apa aja dilakukan cuma demi viral, ditonton banyak orang, yang ujungnya duit banyak.

Keponakan saya sering bilang, pengen punya channel YouTube, pengen banyak yang subscribe. Saya selalu ingatkan, boleh aja, asalkan kontennya bermanfaat dan baik. Konten keburukan, ditonton dan dicontoh orang, maka kita kebagian dosa selama orang lain menjalankan keburukan tsb. Begitupun sebaliknya, konten kebaikan, ditonton dan dicontoh orang, maka kita kebagian pahala selama orang lain menjalankannya. Mau pilih yang mana?

Jariyah itu ga cuma pahala. Dosa pun ada. Ngeri gak? Imam al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menyatakan, “Sungguh beruntung orang yang meninggal dunia, maka putuslah dosa-dosanya. Dan sungguh celaka seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran kejahatan terus berjalan tiada hentinya.”

Pernah juga saya nonton video di YouTube isinya tentang alasan si pemilik channel berhenti menyukai KPop. Yang menarik adalah di kolom komentar ada yang bilang, dia berhenti karena khawatir ketika sakaratul maut nanti yang terngiang bukan syahadat tapi lagu KPop. Si netizen ini menambahkan, dia mengikuti arahan Ustadz Abdus Somad.

Saya sendiri belum pernah nonton ceramah UAS soal KPop. Tapi pernah dikasih lihat Anty video tanya jawab UAS soal drama Korea, boleh atau gak. Dan di situ UAS jawab, kira-kira seperti alasan netizen tadi berhenti dengerin KPop, kl gandrung dengan drama Korea, nanti pas sakaratul maut yang terbayang drakor. Ngeri.

Ini baru satu tema ceramah UAS. Satu kebaikan, diikuti satu orang, pahalanya kebagian. Bagaimana kalau banyak kebaikan dan diikuti banyak orang. Multi level pahala. Masya Allah.

Tiap orang emang punya maqam sendiri. Pun punya kegemaran sendiri. Bukan berarti semua harus jadi YouTubers dengan konten ceramah. Tapi setidaknya satu hal yang harus jadi pegangan, jangan sampai konten yang kita bagi berisi keburukan. Ga cuma di YouTube, tapi juga di sosial media lain.

Jadi influencer emang kelihatannya enak. Tapi menginspirasi orang lain itu bebannya berat.

influencer dan followers

Buat apa jadi YouTubers, panen subscribers, kalau isinya cuma menginspirasi orang yang ga bener. Di dunia keblinger, di akhirat keder.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.