Belajar Menjadi Atasan dari Lee Min Ho

‚Äč

Di sebuah drama korea yang saya tonton, seperti biasa, tidak usah tanya judulnya ya, hehe, dikisahkan tentang seorang arsitek yang merintis perusahaan sendiri. Untuk memperbesar namanya dan menyelamatkan perusahaan nya yang saat itu sedang krisis, dia mengikuti sebuah kompetisi desain gedung yang akan dibangun.

Singkat cerita, ketika ada beberapa masalah muncul dan deadline pengumpulan desain mendekat, tangan kanannya mengumpulkan sebuah desain curian atas nama perusahaan mereka. Desain curian itu adalah desain rumah juri kompetisi tsb yang selama ini dia selidiki untuk cari inspirasi. Akhirnya masalah pun makin pelik. Hubungannya berantakan dengan pacarnya yang secara tidak sengaja dekat selama proses “cari inspirasi”nya, dia juga dibenci oleh juri yang mestinya jadi calon mertuanya. Tapi sebagaimana drama korea kebanyakan, tokoh utama pria dan wanita putus di episode 11, konflik makin keruh, tapi semua membaik di episode 15-16.

Setelah rekonsiliasi, si arsitek yang juga bos di perusahaan rintisannya ini ditanya “apa kamu yang mencuri desain ku?”. Dan dia jawab, “iya”. Ceweknya heran kenapa dia mengakui. “karena itu dilakukan oleh orang yang bekerja padaku, sama saja aku yang melakukannya”

Drama ini saya tonton sekitar 5 tahun lalu, tapi sikap si tokoh utama ini berkesan buat saya sampai sekarang. Dari situ saya belajar bahwa kesalahan seorang bawahan adalah bagian dari kesalahan bosnya juga.

Setelah saya punya, sebutlah, asisten, saya juga kadang menemukan kesalahan dari dia. Ketika kesalahannya berujung pada kerugian materi atau komplain customer, apa sih yang paling enak? menyalahkan dia.

Emang paling enak kl dalam hidup punya kambing hitam. Kl lagi sensi, salahkan PMS. Lagi terlambat, salahkan macet. Tugas ga selesai, salahkan listrik mati. Cari terus yang bisa disalahkan lalu kita cuci tangan. Nikmat. Apalagi kl yang salah memang bukan kita, ya tinggal alihkan saja telunjuk ke orang yang salah tsb.

Dalam hal ini saya mau bahas asisten. Pernah suatu hari dia salah kirim order, reseller protes. Jawaban paling enak adalah “oh ya mbak, asisten saya yang packing keliru, nanti saya tegur”. Sayanya bebas dari kesalahan. Tapi ga gitu cara Jin Ho si arsitek dan dari dia saya belajar.

Kl asisten ada salah, saya juga minta maaf ke reseller. Waktu dia nulis alamat ga lengkap dan paket sempat hilang, saya udah niat ganti barang hilang itu pakai uang sendiri. Meskipun sebenarnya saya ini bukan orang yang cukup pemaaf. Kl dia ada salah-salah ya rasanya pengen nyelepet juga. Tapi itu cukup ai aja yang tahu, karena biasanya saya curhat ke ai dan sekarang ditambah Anda yang baca tulisan ini. Hehe. Meskipun saya uring-uringan, geregetan, pengen getok, tapi sebisa mungkin, saya ga menyalahkan asisten saya sepenuhnya apalagi di depan orang lain.
Kenapa? karena dengan adanya kesalahan dia berarti sayanya ga tuntas mengajarkan dan mensupervisi. Kl dia ada salah, bisa jadi saya juga mengajarkan nya salah, instruksi ga jelas, dsb. Tentu saja ini ada batasannya, boleh salah berapa kali, bagaimana intensitas kesalahan nya, sampai berapa lama. Bahkan andai sampai harus diputus saking ngaconya, itu juga kekurangan atasan, karena artinya dia gagal jadi leader.

Sudah lama saya pengen nulis ini tapi ga sempat. Tapi jadi makin pengen ditulis setelah baca berita CEO citilink mengundurkan diri setelah kasus pilot (dicurigai) mabuknya. Yang mabuk bukan dia, tapi dia ikut resign karena merasa ikut bertanggung jawab. CEO citilink paham, kesalahan bawahan adalah kesalahan dia juga.

Namun setelah beberapa hari masih belum saya tulis juga, menyusul berita perpanjangan STNK naik dan gada yang merasa telah mengeluarkan kebijakan tsb. Nah ini, entah bawahan manapun yang salah, tapi ketika sebuah kebijakan publik gini keluar, pemimpin punya porsi kesalahan nya juga. Entah pemimpin nya merasa atau ga.

Kita gabisa berharap punya pemimpin seperti Jin Ho, karena meskipun pemerannya ganteng, tokoh ini cuma fiktif. Tapi kita bisa belajar untuk ga asal melimpahkan kesalahan pada orang lain. Sebagai seorang atasan, turut bertanggung jawab atas kesalahan bawahan.

Semoga bisa jadi pemimpin yang baik. Dan mendapatkan pemimpin yang baik.

Ludi,
lebih suka daster daripada atasan #lah

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.