Belajar Dari Kawan Difabel

Saya tidak ingat sejak kapan jadi mulai memperhatikan akses publik untuk kaum difabel. Mungkin pemicu utamanya ketika saya bolak-balik berobat di RS Fatmawati.

Ada satu pasien, saya ga tahu beliau ini ke poli mana, sering kali ketemu pas lagi jadwal periksa. Bapak ini menggunakan kursi roda, ga bisa berjalan, dan dia berobat sendiri tanpa ada yang mengantar.

Akhirnya saya jadi penasaran, bagaimana bapak ini bisa masuk ke dalam. Di luar rumah sakit, saya jadi perhatikan, mana akses jalan untuk pengguna kursi roda. Mana tanjakan yang cukup landai, kira-kira bapak tadi lewat mana dengan kursi roda sendirian.

Lalu, mulai lanjut mengamati kalau ke gedung-gedung lain, mall, naik Trans Jakarta, dan sarana publik lain, apakah bisa dimasuki oleh pengguna kursi roda.

akses-untuk-disabilitas

Terlalu banyak tangga di fasilitas publik kita

Satu lagi yang memberi saya gambaran tentang akses untuk difabel adalah sebuah komik Jepang. Yhaa, Ludi referensi nya komik.

Komiknya bercerita tentang seorang pria yang lumpuh karena kecelakaan waktu SMA. Pria ini tetap mengejar mimpinya meskipun dari atas kursi roda. Dia jadi arsitek dan bikin rancangan gedung-gedung yang punya akses untuk kaum difabel.

Pria ini juga tetap menjalankan hobinya sejak SMA yaitu basket. Dia main wheelchair basketball rutin. Dari komik ini juga saya baru ngeh kalau wheelchair basketball punya tantangan lebih dibanding basket biasa, salah satunya, jarak ring yang jadi makin tinggi, karena mereka melempar dalam posisi duduk.

Saya jadi sadar bahwa kawan-kawan difabel ini sungguh besar sekali perjuangannya dalam hidup. Untuk mengakses fasilitas publik saja, halangannya banyak sekali.

Mereka mungkin dorong mobil menanjak setiap hari. Seperti analogi yang disampaikan ayahnya Handry Satriago, CEO GE Indonesia, yang tidak bisa lagi berjalan sejak usia 18 tahun. Ga bisa berhenti karena nanti mobilnya turun lagi. Harus terus didorong.

handry-satriago

Handry Satriago, CEO GE Indonesia. Tidak bisa berjalan sejak usia 18 tahun

Jangankan yang semacam mall atau bis umum, tempat ibadah saja sulit. Tahun kemarin saya ga ketemu masjid yang bisa buat itikaf dan akses perempuan ke tempat salat dan wudhu tidak ada tangganya. Untuk itikaf beberapa hari, ngajak ibu yang sudah tua, kasihan kl harus naik turun tangga.

Itu baru dari satu hal, aksesibilitas. Belum lagi yang lain. Soal stigma misal. Atau bahkan kejahatan.

Tuna netra yang jualan kerupuk itu, ada lho pembeli yang ngasih uang kurang atau ambil kembalian lebih.

Dari kawan difabel ini kita bisa banyak belajar. Mengambil hikmah dari tuna netra, yang ga punya dosa dari pandangan maksiat dalam hidupnya. Dari kawan difabel lainnya juga belajar. Belajar berjuang. Belajar bersyukur dan bersabar.

kesetaraaan-kaum-disabilitas

Satu lagi, ada pelajaran bagus dari Handry Satriago, berikut saya kutip

“Setiap orang pasti punya kesusahannya. Anda pasti punya kesusahan masing-masing. Dan hanya ada bagian kesusahan yang dibuat oleh Allah untuk Anda sendiri untuk dihadapi.

Berhentilah berharap orang lain mengerti apa yang anda susahkan, karena gak bakalan. Satu-satunya cara adalah menghadapinya. Ketika Anda berani hadapi itu, maka ada sebuah kekuatan yang diberikan oleh yang Maha Kuasa yang tidak diberikan kepada semua orang. Kekuatan itu adalah kekuatan memantul balik.”

Selamat Hari Disabilitas Internasional

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.