Bapak Adalah Pahlawan

ayah dan anak perempuan

Dulu, waktu masih ambil bagian dalam kemacetan jakarta pagi hari, ketika udah penat, capek, kzl, saya suka mengeluh dalam hati “ya Allah, cari duit gini amat.” Lalu saya tengok kanan, kiri, sesama pengendara yang juga di tengah kemacetan, cari yang ganteng tapi ga kelihatan. Eh bukan, melihat sesama pengendara yang mungkin juga sama lelahnya, saya jadi mikir, luar biasa ya para bapak ini. Mesti menjalani ini setiap pagi, demi mencari nafkah buat anak istri.

Iya. Meskipun status kami sama. Sama-sama cari duit. Saya tetap kagum pada mereka para bapak. Karena saya cari duit buat diri sendiri. Biar bisa beli pulsa dan kuota, sekadar update status alay segala rupa. Tapi lihatlah mereka, berjuang bukan semata untuk dirinya.

Ternyata, untuk tahu bagaimana besarnya pengorbanan seorang bapak, tidak perlu menunggu untuk jadi orang tua. Cukup jadi pekerja, yang merasakan perjuangan cari nafkah. Dulu saya pikir sosok ibu yang sangat banyak jasanya buat saya. Iya juga sih. Ibu yang mengandung 9 bulan dan melahirkan bertaruh nyawa. Tapi yang bayar biaya bidan, dokter, atau ongkos persalinan siapa? Pakai uang bapak. Ibu repot mengurusi anak tiap hari, masak, nyuci, dan pekerjaan domestik lainnya. Tapi dari mana uang belanja? Dari gaji bapak.

Kalau lagi macet berangkat kerja gitu saya jadi suka merenung. Betapa besarnya pengorbanan seorang bapak. Coba dihitung, dari seluruh gaji yang didapatkan, berapa sih yang sepenuhnya dipakai buat diri sendiri? Atau contoh sederhananya, kalau ada bapak yang pulang bawa 20 tusuk sate buat dimakan sekeluarga, berapa tusuk yang dimakan bapak? Kalau bapak saya, anaknya 5, waktu kecil doyan makan semua. Mungkin dia sendiri kebagian 2 tusuk saja. Bahkan kalau menurut pengakuan seorang bapak lainnya, untuk diri sendiri aja mesti ngumpetin di selipan-selipan.

Soal berkorban, sosok bapak salah satunya yang paling paham. Pikirannya diisi bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti bapak saya, meskipun sekarang kakinya sudah 3 (ditambah 1 tongkat, red), sudah sering tertukar nama anak dan cucu sendiri, tapi selalu gelisah kalau lihat ada bocor di rumah. Selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga.

Persis seperti Ebiet G Ade bilang “Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan. Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk. Namun semangat tak pernah pudar, meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia”.

Kadang kemampuan ini rasanya sulit dipercaya. Abang saya yang dulunya begajulan, suka ngorekin celengan saya waktu kecil diam-diam kaya Miiko yang bobol celengannya Mamoru. Begitu sudah jadi bapak, dia bilang ke istrinya “uang jangan disayang-sayang, kebahagiaan anak itu ga ternilai harganya”.

 

Makanya bagi saya, kalau ditanya siapa pahlawan. Bapak adalah salah satunya.

 

Selamat Hari Pahlawan

Add Comment