Bahaya Plastik Untuk Lingkungan Juga Kehidupan

Alhamdulillah di timeline akhir-akhir ini jadi lebih banyak yang bahas soal sampah dan plastik. dipicu juga dari terdamparnya Paus Sperma yang mati di wakatobi dan ditemukan hampir 6 kg sampah plastik di perutnya. Alhamdulillah kalau awareness masyarakat soal bahaya plastik jadi meningkat.

paus-sperma-makan-plastik

Paus Sperma yang terdampar di Wakatobi, ditemukan 5,9 kg plastik di perutnya

Dengan kejadian Paus yang makan plastik ini, sebenarnya seberapa pengaruh sih ke perubahan perilaku masyarakat. Apakah cuma kaget sesaat abis itu lupa, prihatin tapi tidak melakukan apa-apa, atau beneran jadi berubah dan berhenti menggunakan plastik sekali pakai? Atau ga peduli sama sekali, toh itu kan masalah paus dan hewan laut lainnya, bukan masalah kita. Kalau jawabannya yang terakhir, asli sedih aku tuh.

Mungkin ada yang berpikir yang salah adalah yang buang sampah ke laut atau ke sungai. Selama kita buang sampah di tempatnya, bayar iuran sampah dengan tertib, kasih sampah ke petugas, maka, kita murni tidak bersalah dengan adanya plastik di laut. Padahal, faktanya ga begitu. Sini saya ceritakan.

 

bahaya-plastik-di-laut

Apakah ikan di laut kalau minum pakai botol? Apakah ubur-ubur kalau belanja pakai kresek? Apakah kura-kura makan snack kemasan? Jawabannya tidak. Itu semua ulah manusia. Binatang meninggalkan jejak kaki, manusia meninggalkan jejak sampah. Sampah di laut itu semua ulah manusia.

Apakah itu ulah manusia yang ada di laut doang? Apakah itu karena awak kapal atau penduduk pesisir suka buang sampah ke laut? Coba bandingkan, banyakan mana penumpang kapal sama manusia yang hidup di darat? Jadi, jelas ya, sampah yang masuk ke laut itu sebagian besar asalnya dari darat. Makanya kata Bu Wilda CEO PT Xaviera Global, “kalau ingin mengatasi sampah di laut, tertibkan daratnya.”

Atasi masalah sampah di laut itu awalnya dari darat. Karena sampah di laut itu sebagian besar adalah sampah dari daratan yang terbawa ke sana. Ah, untung saya ga pernah buang sampah sembarangan. Kata siapa untung? Emangnya sampah yang kita kasih ke petugas sampah itu dibawa ke mana? Memang bukan dibawa ke laut sih, tapi dibawa ke tempat pembuangan yang cuma 7%nya saja diolah, sisanya menumpuk begitu saja, dan plastiknya tertiup angin jatuh di laut.

sampah-plastik-di-darat

Saya kasih satu fakta, menurut penelitian, plastik sudah ditemukan di Samuda Arktik. Itu bukan karena beruang kutub sudah mulai minum dari botol a*ua, tapi karena plastik kita terbawa sampai sana. Dan jangan bayangkan bentuknya tali rapia, kresek, atau botol, bentuknya adalah microplastic.

Microplastic adalah bentuk mikro dari plastik, kecil, serpihan, ga terlihat. Ini yang paling bahaya, plastik yang kita pakai berubah jadi microplastic dan mencemari apapun. Jadi plastik yang tadi saya sebut di TPA terbawa angin, itu dalam bentuk microplastic.

Kalau Anda pikir sudah aman pakai kresek yang katanya degradable, alias bisa hancur sendiri, sesungguhnya itu lebih ngeri. Karena plastik jenis ini akan hancur lebih cepat, dan berubah jadi microplastic-nya lebih cepat juga. Say, itu plastik degradable cuma hancur saja, tapi tidak terurai, jadi dia tetap berada di alam dalam jangka waktu yang sangat lama.

Yaudah sih santai saja, kan yang makan plastik hewan laut, bukan kita. Tet tot. Salah besar. Memang situ ga pernah makan ikan? Ikan yang kamu makan juga sudah mengandung microplastic.

Jadi, saya sering bilang ke ibu saya yang masih suka kecolongan pakai kresek. “Ma, yang makan plastik itu bukan cuma kura-kura, bukan cuma paus, kita juga sudah makan plastik”.

Heh, emangnya situ kesurupan makan plastik? No., jangan bayangkan kresek, ini plastik dalam bentuk micro. Tahukah kamu garam, ikan, dll sudah mengandung microplastic? Ingat ga waktu ada berita heboh, ditemukan microplastic di air minum kemasan? Apakah dipikir itu hoax karena persaingan bisnis? Bukan kak! Ini beneran. Plastik yang kena sinar matahari bisa berubah jadi microplastic dan mencemari air di dalamnya.

Masih kurang bukti kalau manusia juga makan plastik? Baru-baru ini dilakukan penelitian ke 8 orang dan ditemukan adanya mikroplastik di feses mereka. Dari penemuan itu diprediksi 50% orang di dunia ini punya plastik di ee-nya. Sengaja pakai kata “ee” biar lebih jelas. Googling sudah kalau ga percaya.

Mikroplastik di tubuh manusia ini ukurannya bervariasi dan yang bikin makin bahaya adalah ada yang ukurannya lebih kecil dari sel darah kita. Akibatnya, mikroplastik ini bisa masuk dalam aliran darah dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Jadi, apakah kita masih mau terus-terusan menggunakan plastik? Oke, mungkin memang ga bisa dipungkiri kalau sulit dan plastik juga sangat banyak membantu kita. Tapi apa yang tidak bisa dikerjakan semuanya, jangan ditinggalkan seluruhnya. Kerjakan saja dari yang kita bisa.

Yang utama adalah hindari penggunaan plastik sekali pakai. Jangan lagi pakai plastik yang habis itu dibuang jadi sampah. Penggunaan ulang bukan yang utama, yang lebih penting adalah mencegah menggunakannya.

Usahakan jangan sampai ada yang dipakai, ini yang mudah misal kresek atau sedotan. Bisa diganti dengan bawa tas belanja. Sedotan kalau ga mampu beli yang bisa dipakai lagi kaya stainless, bambu, atau silikon, yaudah sih ga usah minum pakai sedotan. Meskipun itu cuma sebatang sedotan, tapi kalau 8 juta orang berpikir demikian, jadi jutaan sampah.

Bawa botol minum sendiri, gunakan air isi ulang. Bawa tempat makan atau wadah kalau belanja makanan. Bayangkan berapa plastik yang digunakan kalau kita beli soto dibawa pulang, satu plastik untuk kuah, satu plastik untuk bihun, satu plastik untuk sambel, dan satu plastik lagi untuk menentengnya pulang. Kalau Anda bawa wadah sendiri, berapa banyak plastik berhasil dicegah jadi sampah? Hebat!

bahaya-plastik-ganti-kantong-belanja

Ganti plastik dengan membawa kantong belanja dari rumah | picsource: pixabay

Saya mungkin akan terus bahas soal sampah di timeline, semoga pada ga bosan. Karena memang awareness orang Indonesia masih kurang banget soal ini. Kemarin dengar founder Evoware, itu produk packaging dari rumput laut, cerita, dia awalnya bikin inovasi itu karena sedih melihat banyaknya sampah plastik di Indonesia. Akhirnya bikin alternatif plastik, pakai rumput laut yang biodegradable, bisa terurai dalam 2 bulan. Tapi, pembeli produk dia 80% lebih dari luar negeri, orang Indonesianya kurang minat. Orang kita masih lebih pilih pakai plastik daripada produk yang ramah lingkungan. Ga heran kita juara dunia kedua setelah Tiongkok dalam hal sumbangan sampah plastiknya.

Setelah tahu begitu banyak bahaya plastik untuk lingkungan, yuk sama-sama kita mulai beralih. Tinggalkan plastic single use. Semoga Allah beri kita semua kemampuan.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.